Fenomena Penggantian Fonem pada Kata Celaan di Kalangan Remaja

Fajar Kurniadi

Abstract


Perkembangan bahasa mengikuti perkembangan manusia dan interaksinya. Berbanding lurus antara semakin beragam dan banyaknya interaksi manusia. Terutama di kalangan remaja, di mana interaksi dan pergaulan adalah hal yang harus dilakukan demi mengembangkan potensi di berbagai bidang. Tidak ayal lagi, pemerolehan dan penggunaan bahasa remaja pun beragam. Keberagaman ini merupakan warna-warni dalam pergaulan, di antaranya sapaan akrab, tempat berkumpul, media sosial, dan berbagai topik pembicaaan kekinian termasuk kata celaan. Sebenarnya kata celaan ini digunakan sebagai candaan semata, tetapi tidak jarang juga mengundang emosi. Oleh karena itu, terdapat fenomena baru dalam dunia kebahasaan remaja dengan mengganti beberapa fonem atau susunan fonem pada kata celaan agar lebih terdengar halus dan tidak menyinggung.  Adapun tujuan penelitian yang dilakukan selama tiga bulan ini adalah menangkap perilaku bahasa remaja dalam penggunaan kata celaan. Metode yang digunakan adalah observasi dan wawancara (tidak terstruktur) pada lebih dari 300 responden. Hasilnya pun mengejutkan, fenomena menggunakan kata celaan sudah dianggap lumrah dan menjadi bumbu dalam pergaulan. Beberapa kata celaan seperti (maaf) “Anjing” mengalami pengubahan menjadi “Anjay”, atau “Anjrit”, atau “Njiir”. Demikian hal nya pada kata (maaf) “Kampret” mengalami pengubahan menjadi “Kamvret” dan beberapa kata lain yang mengalami pengubahan fonem.

 


References


Bahasa, P. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.


Full Text: PDF

DOI: 10.22146/db.v1i1.47087

Refbacks

  • There are currently no refbacks.