Mitos Menstruasi: Konstruksi Budaya Atas Realitas Gender

https://doi.org/10.22146/jh.743

Irwan Abdullah(1*)

(1) 
(*) Corresponding Author

Abstract


Rahim merupakan sumber dari berbagai persoalan yang dihadapi perempuan yang memiliki implikasi yang luas dalam penataan sosial (Lupton, 1994). Karena memiliki rahim, perempuan harus menghadapi menstruasi, kehamilan, melahirkan, bahkan menopause. Fakta biologis ini secara langsung membedakan perempuan dengan laki-laki yang bersifat kodrati. Persoalan yang dihadapi perempuan dan laki-laki kemudian menjadi sangat berbeda karena alasan laki-laki tidak memiliki rahim. Adanya rahim ini menyebabkan perempuan memiliki cacat bawaan karena ia membawa serta serangkaian “penyakit” yang harus diderita kaum perempuan yang oleh Morris (1993: 104) dikatakan menyebabkan terjadinya histeria yang merupakan gangguan terhadap keseluruhan pengaturan suhu tubuh dalam proses biologisnya. Penyakit semacam ini telah membentuk dikotomi yang tegas antara “penyakit perempuan” dan “penyakit laki-laki” Tulisan ini merupakan usaha untuk mengkaji bagaimana mitos tentang menstruasi yang terkait dengan kultur suatu masyarakat memiliki implikasi yang luas dalam penataan sosial, khususnya dalam pembentukan dan pelestarian hubungan gender dalam masyarakat. Apakah, misalnya, menstruasi dapat menjadi tanda dari adanya negosiasi kekuasaan yang berlangsung dalam suatu setting sosial tertentu dan bagaimana proses dekonstruksi terhadap realitas seksual itu dapat terjadi.

Full Text:

PDF



DOI: https://doi.org/10.22146/jh.743

Article Metrics

Abstract views : 3786 | views : 5392

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2012 Irwan Abdullah

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



ISSN 2302-9269 (online); ISSN 0852-0801 (print)
Copyright © 2020 Humaniora, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada