ASPEK INTERTEKSTUAL DALAM CERITA RAKYAT DATA: CERITA SI MISKIN DENGAN RAJA BAYAN"

https://doi.org/10.22146/jh.2081

Imran T. Abdullah(1*)

(1) 
(*) Corresponding Author

Abstract


Cerita prose daJam tradisi sastra Aceh disebut haba (Arab: khabar). Haba dipandang sebagai jenis cerita yang tidak serius sebab biasanya disampaikan dalam suasana santai, sebagai cerita perintang waktu. Karena sifat penyampaiannya yang demikian, maka haba umumnya pendek-pendek dan hampir selalu merupakan cerita yang penuh dengan unsur-unsur kejenakaan. Haba selalu disampaikan secara lisan, dan diwarisi seeara turun temurun dari mulut ke mulut. Karya-karya haba dapat dikatakan tidak pernah diturunkan ke dalam bentuk tertulis. Naskah-naskah haba yang kini tersimpan di Universiteir Bibliotheek Leiden (UBL) bukanlah naskah budaya (naskah yang terpakai di dalam masyarakat), melainkan ditulis atas permintaan kolektor-kolektor Belanda pada masa itu. Naskah ditulis dalam huruf Jawoe (Melayu: Jaw ) dan Latin dengan memakai kertas folio bergaris yang bersih dari bekas-bekas keringat.

Keywords


Aceh, cerita rakyat, Haba, intertekstual, sastra

Full Text:

PDF



DOI: https://doi.org/10.22146/jh.2081

Article Metrics

Abstract views : 1713 | views : 895

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2013 Imran T. Abdullah

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



ISSN 2302-9269 (online); ISSN 0852-0801 (print)
Copyright © 2020 Humaniora, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada