Persepsi terhadap Kemampuan Komunikasi Interpersonal Orang Tua dengan Kecenderungan Kenakalan Remaja

Fadiah Awanis, Maria Goretti Adiyanti

Abstract


This study aimed to determine the relationship between perception of parent’s interpersonal communication ability with juvenile delinquency tendency. The hypothesis of this study was the perception of parent’s interpersonal communication ability had a negative correlation with juvenile delinquency tendency. Participants consisted of 100 male and female middle adolescent who studied in several senior high schools in Yogyakarta. The Perception of Parent’s Interpersonal Communication Ability Scale (18 items) and The Tendency of Juvenile Delinquency Scale (25 items) were used in this study. Data were analyzed using the Product Moment Pearson Correlation method with SPSS version 21. The result showed that the perception of parent’s interpersonal communication ability had a negative correlation with juvenile delinquency tendency (r=-0,295, p<0,01). Findings support  the opposite relationship between how adolescents perceive the ability of parents' interpersonal relationships with their juvenile delinquency.


Keywords


juvenile delinquency; parent’s interpersonal communication; perception

References


Agustiani, H. (2006). Psikologi perkembangan: Pendekatan ekologi kaitannya dengan konsep diri dan penyesuaian diri remaja. Bandung: PT. Refika Aditama.

American Psychological Association. (2007). APA dictionary of psychology. Washington DC: American Psychological Association.

Anggraini, N. (2003). Peran keterampilan menyimak dan keterampilan berbicara dengan kemampuan komunikasi interpersonal pada siswa SMU. Naskah tidak dipublikasikan. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Clark, R. D., & Shields, G. (1997). Family communication and delinquency. Adolescence, 32, 81.

Cobb, N. J. (2007). Adolescence: Continuity, change, and diversity (6 ed.). New York: The McGraw-Hill Companies, Inc.

DeVito, J. A. (2013). The interpersonal communication book (13 ed.). New Jersey: Pearson Education, Inc.

Handika, W. (2012, Nopember). Mengapa Yogyakarta disebut kota pelajar? Diunduh dari: wibihandika.wordpress.com: https://wibihandika.wordpress.com/2012/11/15/mengapa-yogyakarta-disebut-kota-pelajar/ tanggal 16 Juli 2017.

Hidayah, K. (2016, December). Kenakalan remaja masuk daftar potensi ancaman di DIY. Diunduh dari: http://jogja.tribunnews.com/2016/12/14/kenakalan-remaja-masuk-daftar-potensi-ancaman-di-diy tanggal 12 Juni 2017.

Kusmiyati (2013, September). Berbagai perilaku kenakalan remaja yang mengkhawatirkan. Diunduh dari https://www.liputan6.com/health/read/688614/berbagai-perilaku-kenakalan-remaja-yang-mengkhawatirkan tanggal 12 Juni 2017.

Latief. (2015, Juni). Jogja kota pelajar dan budaya. Diunduh dari: http://www.kompasiana.com/latiefmnc/jogja-kota-pelajar-dan-budaya_55094eba813311eb01b1e174 tanggal 16 Juli 2017.

Modecki, L. K. (2008). Addressing gaps in the maturity of judgement literature: Age differences and delinquency. Law and Human Behavior. 32, 78-91. doi: 10.1007/ s10979-007-9087-7.

Moitra, T., & Mukherjee, I. (2012). Parent-adolescent communication and deliquency: a comparative studi in kolkata, india. Europe's Journal of Psychology, 8, 74-94. doi: 10.5964/ ejop.v8i1.299

Murni, A. (2004). Hubungan persepsi terhadap keharmonisan keluarga dan pemantauan diri dengan kecenderungan perilaku delinkuen pada remaja. Naskah tidak dipublikasikan. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Nailufar, N. N. (2016, Desember 29). Ini 11 jenis kejahatan yang menonjol selama 2016. Diunduh Juni 12, 2017, dari Kompas.com: http://megapolitan.kompas.com/read/2016/12/29/17470511/ini.11.jenis.kejahatan.yang.menonjol.selama.2016

Putri, N. T. (2015). Hubungan komunikasi interpersonal orang tua dengan perilaku seksual pranikah remaja di kota padang. (Tesis tidak dipublikasikan). Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Rakhmat, J. (2012). Psikologi komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Rice, F. P., & Dolgin, K. G. (2008). The adolescent development, relationships, and culture (12 ed.). Boston: Pearson Education, Inc.

Santrock, J. W. (2012). Perkembangan masa hidup (13 ed.). (N. I. Sallama, Ed., & B. Widyasinta, Trans.) Jakarta.

Erlangga. Sarwono, S. W. (2013). Psikologi remaja. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Suaramerdeka.com. (2016, September). Kapolresta jogja tak ingin beri toleransi aksi kenakalan remaja. Diunduh dari: http://berita.suaramerdeka.com/kapolresta-jogja-tak-ingin-beri-toleransi-aksi-kenakalan-remaja/ Oktober 2016

Unayah, N., & Sabarisman, M. (2015). Fenomena kenakalan remaja dan kriminalitas. Jakarta: Puslitbang Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial RI.

Wahyuni, S. (2010). Hubungan antara persepsi terhadap pola asuh otoriter orang tua dan kemampuan berempati dengan kecenderungan berperilaku bullying pada remaja. Naskah Tidak Dipublikasikan. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Widyatama, B. (2016, Februari). Yogyakarta sebagai kota pendidikan: Antara jargon dan realita. Diunduh dari: http://www.kompasiana.com/bastianwidyatama/yogyakarta-sebagai-kota-pendidikan-antara-jargon-dan-realita_56d17c1ad17a61e23c15e0f0 tanggal 16 Juli 2017.

Ying, L., Ma, F., Huang, H., Guo, X., Chen, C., & Xu, F. (2015). Parental monitoring, parent-adolescent communication, and adolescent's trust in their parents in china. (V. Eapen, Ed.) PLOS One. doi: 10.1371/journal.pone.013473


Full Text: PDF

DOI: 10.22146/gamajop.46360

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Gadjah Mada Journal of Psychology (GamaJoP)

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.