Manajemen Jalan Nafas pada Pasien dengan Sindroma Crouzon

  • Djayanti Sari Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
  • Yunita Widyastuti Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
  • Fachsyar Hidayat Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
Kata Kunci: crouzon syndrome, hipoplasi maksilla, hydrocephalus, intubasi, sulit jalan nafas

Abstrak

penutupan prematur dari sutura koronal (sinostosis), atau pada kejadian yang lebih jarang sutura sagital atau lambdoidal dari kranium. Halini menyebabkan munculnya gambaran dismorfik tengkorak dan wajah, dengan dahi tinggi, oksiput pipih dan brachycephaly. Selain kraniosinostosis, anak-anak yang terkena mungkin juga mengalami fusi abnormal tulang dasar tengkorak dan bagian tengah, mengakibatkan hipoplasia rahang atas, langit-langit yang melengkung tinggi dan orbita yang dangkal, menyebabkan eksoftalmos yang menonjol. Adanya kelainan pada fitur wajah ini dapat berimplikasi pada penanganan jalan nafas yang sulit. Kasus dengan pasien seorang perempuan usia 4 tahun dengan keluhan kepala yang membesar sejak usia 1 tahun. Pasien memiliki riwayat terdiagnosis sindroma Crouzon.

Diterbitkan
2023-05-29
Bagaimana cara mengutip
Sari, D., Widyastuti, Y., & Hidayat, F. (2023). Manajemen Jalan Nafas pada Pasien dengan Sindroma Crouzon. Jurnal Komplikasi Anestesi, 8(3), 1-8. https://doi.org/10.22146/jka.v8i3.8369

Most read articles by the same author(s)

<< < 1 2 3 > >>