Gerakan Agraria di Tapanuli Utara Awal Orde Baru (1971–1979)

https://doi.org/10.22146/lembaran-sejarah.72576

Lasron P. Sinurat(1*)

(1) Universitas Gadjah Mada
(*) Corresponding Author

Abstract


Under the New Order government, the control of agrarian resources by the state was a way to ensure development programs that increased the country's economic income. This control is legitimized by agrarian political policies, including management through Law no. 5 of 1967 concerning the Basic Provisions of Forestry. In North Tapanuli, expanding the state forest area as mandated by the Forestry Law is a new chapter in the struggle for land rights, and triggers the emergence of community resistance movements. This article will discuss the history of the agrarian movement in North Tapanuli in 1971-1979. People's resistance signifies the inaccuracy of rural communities in the development of the country.


Keywords


Development, New Order; agrarian movement; forestry; agrarian policy

Full Text:

PDF


References

Arsip

Arsip Surat David Siregar. 11 Juli 1979. Permohonan Perhatian Pemerintah Pusat dan DPR Pusat pada Penyiksaan dari 225 Ibu-ibu dalam Persoalan Tanah yang Mau Direboisasi.

Arsip, Surat No. Ist/71. 16 Desember 1971. Perihal; Keberatan Penanaman Tusam atas Pekarangan Penduduk Ria-ria oleh Dinas Kehutanan.

Arsip, Surat No. 403/2-71/I-Pemr., 21 Januari 1972. Perihal : Keberatan Herman Siregar dkk. atas Penanaman Tusam oleh Kehutanan di atas tanah mereka Dari Kampung Ria-ria Kecamatan Dolok Sanggul.

Arsip, Surat David Siregar kepada Ketua Opstibpus, Dewan Perwakilan Rakyat Pusat, Pangkopkamtib, Menteri Dalam Negeri, Menhamkam, Menteri Agraria. 11 Juli 1979.

Arsip, Surat Kuasa Khusus, Nomor: 62/SK/1977/PN-Blg, 22 November 1977.

Arsip, Surat Perjanjian Perdamaian, 2 Maret 1978 antara Togu Anthony Hutagalung, SH. dan Jahemat Lumbangaol, SH. dengan D. Simamora (selaku Kepala Resort Polisi Hutan Dolok Sanggul), M.W. Naibaho (selaku Kepala bagian Kesatuan Pemangku Hutan Tele), dan Sahat Lumbangaol (selaku Kepala Kampung Ria-ria dan Pemborong Jawatan Kehutanan).

Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat-II Tapanuli Utara. 1 Oktober 1979. No. 138/Kpts/1979 Tentang Tanah Adat Penduduk Siria-Ria Atas Areal Sigende, Parandalimanan, Parhutaan, Adian Padang, Dan Sipiun.


Surat Kabar

Harian Analisa. 5 Agustus 1989. Atas Perintah Pangkomkabtib; 13 Orang yang Ditahan Dalam Kasus Siria-ria Dibebaskan.

Harian Analisa. 7 Agustus 1979. Sudomo: Kembalikan Uang Penduduk Siria-ria.

Kompas. 27 Juli 1979. Dilaporkan ke DPR: Masalah Penahanan 17 Warga Desa Siria-ria, Sumut.

Kompas. 28 Juli 1979. Mabak Tidak Tahu Adanya Penahanan 17 Warga Desa Siria-ria.

Kompas. 31 Juli 1979. Kasus Siria-ria: Mabak Bantah Keras Pernyataan Anggota DPR.

Kompas. 1 Agustus 1979. Sutadji tentang Kasus Siria-ria: Peristiwanya Dibesar-besarkan.

Kompas. 2 Agustus 1979. Pangkopkamtib: Jangan Persoalkan Lagi Kasus Siria-ria.

Kompas. 4 Agustus 1989. Pangkopkamtib Perintahkan agar Tigabelas Penduduk Siria-ria Dibebaskan.

Kompas. 7 Agustus 1979. Kasus Siria-ria akan Diselesaikan Secara Musyawarah.

Kompas. 13 Agustus 1979. Pangkopkamtib: Perlu Pendekatan Lebih Baik dalam Menyelesaikan Kasus-kasus Tanah.

Sinar Indonesia Baru. 4 Oktober 1979. Pemerintah Mengakui Hak Adat Tanah Seluas 794,6 Ha Yang Selama Ini Menjadi Sumber Sengketa.

Tempo. 11 Agustus 1979. Bila “Mia” Mengamuk.

Tempo. 18 Agustus 1979. Tanah Ini Milik Kami.

Tempo. 13 Oktober 1979. Tambunan Setelah 15 Bulan.

Tempo. 1 September 1989. Kasus Jenggawah-Siria-ria; Dan Dalang Dalam Pewayang.


Wawancara

Op. Lasma br. Banjarnahor (74 tahun) di Desa Ria-ria, Kabupaten Humbang Hasundutan. 22 Juli 2021.

Op. Pelita br. Banjarnahor (Usia 78 tahun) di Desa Ria-ria, Kabupaten Humbang Hasundutan. 21 Juli 2021.

Op. Tono br. Siregar (Usia 75 tahun) di Desa Ria-ria, Kabupaten Humbang Hasundutan. 25 Juli 2021.

Pastor Togar Nainggolan O.F.M. Cap. (Usia 59 tahun) di Pematang Siantar. 12 April 2021.


Artikel dan Buku

Azhar, Ipong S. 1999. Radikalisme Petani Masa Orde Baru. Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia.

Butsi, Febry Ichwan. “Mengenal Analisis Framing : Tinjauan Sejarah dan Metodologi”, Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Comminique, Vol. 1 No.2 April 2019.

Bachriadi, Dianto dan Gunawan Wiradi. 2011. Enam Dekade Ketimpangan: Masalah Penguasaan Tanah Di Indonesia. Bandung: Agrarian Resource Centre, Bina Desa, KPA.

Joosten, P. Leo O.F.M. Cap., 2008. Tali Pengukur Jatuh Ke Tanah Permai, Medan: Bina Media.

Kartodirdjo, Sartono, 1993, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah, Jakarta: Gramedia.

Li, Tania Murray. 2012. The Will To Improve: Perencanaan, Kekuasaan, dan Pembangunan di Indonesia. Jakarta: Marjin Kiri.

Mas’oed, Mohtar. 1989. Ekonomi dan Struktur Politik Orde Baru, 1966-1971. Jakarta: LP3ES.

Nawir, Ani Adiwinata, Murniati, dan L. Rumboko. 2007. Forest Rehabilitation in Indonesia: Where to after more than three decades?, Bogor: CIFOR.

Peluso, Nancy Lee., Suraya Afiff, dan Noer Fauzi Rachman. 2008. “Claiming the Grounds for Reform: Agrarian and Environmental Movements in Indonesia”. Journal of Agrarian Change, Vol. 8 No. 2 and 3.

Rachman, Noer Fauzi. 1999. Petani dan Penguasa: Dinamika Perjalanan Politik Agraria di Indonesia. Yogyakarta: Insist Press.

Rachman, Noer Fauzi. 2017. Land Reform dan Gerakan Agraria Indonesia. Yogyakarta: Insist Press.

Salim, M. Nazir. 2014. “Membaca Karakteristik dan Peta Gerakan Agraria di Indonesia”. Jurnal Bhumi, No. 39 Tahun 13.

Sulistyaningsih. 2013. Perlawanan Petani Hutan: Studi Atas Resistensi Berbasis Pengetahuan Lokal. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Wiradi, Gunawan. 2009. Seluk Beluk Masalah Agraria, Reforma Agraria dan Penelitian Agraria. Yogyakarta : STPN Press.



DOI: https://doi.org/10.22146/lembaran-sejarah.72576

Article Metrics

Abstract views : 1503 | views : 742

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2023 Lembaran Sejarah

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


ISSN 2620-5882(online) | © 2024 Lembaran Sejarah

View My Stats