Dangdut dan Rezim Orde Baru: Wacana Nasionalisasi Musik Dangdut Tahun 1990-an

https://doi.org/10.22146/lembaran-sejarah.25516

Derta Arjaya(1*)

(1) 
(*) Corresponding Author

Abstract


This research tries to answer two main questions. First, what was the reason for the nationalization of dangdut in 1990s period. Second, how was the discourse taken place and who benefited from the nationalization of the popular music. History method is applied in this research, by using sources, such as, magazines, newspapers, books, scientific works, which are spread in several places. The main inventions of this research are, firstly, the nationalization of dangdut was strongly related to the development of dangdut in the 1970’s to 1990’s periods. Secondly, the strategy of the regime to nationalize dangdut in the middle 1990s was conducted through supporting the development of positive dangdut. Third, the nationatization of dangdut in the 1990s benefited both the New Order regime and dangdut itself.


Keywords


dangdut, rezim, nationalization

Full Text:

PDF


References

Buku
Faruk dan Afrinus Salam. Hanya Inul. Yogyakarta: Galang Offset, 2003.

Browne, Susan. The Gender Implications of Dangdut Kampungan: Indonesian ‘Low Class’ Popular Music.

Clayton, Victoria: Monash Asia Institute, Monash University, 2000.

Syamsudin Haesy. Semarak Dangdut 50 Tahun Indonesia Emas. Jakarta: Pirus Interprise, 1995.

Surat Kabar, Majalah
Akmal Nasery Basral dan BL, “Sebuah Goyang Bagi Integrasi” Gatra, 24 Februari 1996.

“Basofi Soedirman, Pak Harto Memberi Komentar”, Tempo, No. 28, Tahun XXII, 22 September 1992.

“Berkat Musik Dangdut Pekik Merdeka Disambut 300.000 Orang”, Kompas, 8 Agustus 1995.

BreRedana, “Kebudayaan, Dangdut, Paha”, Kompas, 4 April 1993.

“Camelia Malik: Warna Saya Jelas”, Kompas, 13 Mei 1997.

“Dangdut dengan Kemasan Internasional”, Kompas, 31 Desember 1991.

“Dangdut, ‘Lokal Genius’ ke-4”,Kompas, 5 Mei 1991.

“Dangdut Menepis Beban Sejarah”, Kompas, 5 Mei 1991.

“Dangdut Semakin Perkasa, Peluang Ekspor Mulai Terbuka”, Kompas, 25 Februari 1990.

“Dua Halaman Doa untuk Bapak Presiden Muhammad Soeharto”, Tempo, 9 Mei 1992.

“Elvy Sukaesih Gadis atau Janda”, Tempo, No. 52 Tahun XXI, 22 Februari 1992.

“Gebyar Dangdut Pancasila di TMII”, Kompas, 19 Desember 1995.

“Hak Asasi Dilarang”, Tempo, 1 Desember 1977, Th VII, No. 42.

“Itje, Eddy Sud dan Eka”, Kompas, 17 Desember 1989.

Jack Joetabarat “Sekitar Festival Lagu Populer ASEAN: Lagu dan Penyanyi Kita yang Memalukan”, Aktuil, No. 20 Tahun XIII, 3 Agustus 1981.

“Kapolri – Kapolda – Berjoget Bersama”, Kompas, 22 Juli 1992.

“Ketua Umum DPP Golkar: Kampanye Momentum Penting”, Kompas, 7 Mei 1997.

“Kontroversi Musik Dangdut TVRI”, Kompas, 31 Oktober 1992.

KS, Theodore, “Lagu Dangdut Semakin Mendominasi Pasar”, Kompas, 26 April 1992.

“Kontroversi Musik Dangdut di TVRI Membuat Camelia Malik dan Rhoma Irama Menghadap Direktur

Televisi Aziz Husain”, Kompas, 15 November 1992.

“Kota Guangzhou Digoyang Dangdut”, Kompas, 6 November 1991.

“Lagu Rupiah akan Dilarang di Teve”, Kompas, 21 September 1976.

“Moerdiono Ternyata Penikmat Dangdut”, Kompas, 13 Juli 1995.

“Moerdiono Tokoh Dangdut 1997, Iis Dahlia dan Meggy Z. Penyanyi Dangdut Terbaik”, Kompas, 11 Juli 1997.

“Musik Dangdut yang Tampil Seronok Dilarang Manggung”, Kompas, 27 September 1989.

“Musik Dangdut di Festival Internasional Chile”, Kompas, 10 Februari 1994.

“Nama dan Peristiwa”, Kompas, 22 April 1992.

“Pak Moerdiono akan Tampil di Acara Pesta Rakyat Indonesia Emas”, Kompas, 11 Agustus 1995.

“Panggung Dangdut TPI”, Kompas, 31 Desember 1995.

“Pasar Kaset Lesu, Agen Barat Dituding”, Kompas, 7 Juli 1991.

“PDI Soroti Orang Muda dan Pendidikan, Golkar Soal Kesejahteraan, PPP Atasi Kemiskinan”, Kompas, 29 April 1997.

“Penayangan Dangdut di TVRI Diperketat”, Kompas, 4 Februari 1992.

“Peredam Masa yang Bergejolak”, Gatra, 24 Februari 1996.

“Reynold dan Camelia Malik ke Kuala Lumpur”, Kompas, 7 Desember 1986.

“Rhoma Irama”, Kompas, 6 September 1992.

“Sajian Musik di TVRI 92% Dangdut”, Kompas, 31 Maret 1992.

“Semarak Dangdut 50 Tahun Indonsia Emas: Rhoma dan Elvie Tampil Bersama”, Kompas, 12 Juli 1995.

“Semarak Dangdut di Ancol Dimeriahkan 30 Penyanyi”, Kompas, 5 Agustus 1995.

S.N. Ratmana, “Lagu-lagu Pop sebagai Saluran untuk Melihat Aspirasi Masyarakat: Perlu Penyaringan, tapi juga Pendekatan Lapang Dada” Kompas, 12 Oktober 1976.

Elik Susanto, “Dangdut: Musik Teladan atau Setan”, Republika, 13 Januari 1996.

“The Day of the Dangduts”, Tempo, No. 10 Thn. IX 5 Mei 1979.

“TVRI Menghentikan Sementara Penyiaran Paket Musik Safari”, Kompas, 11 Desember 1992.

Internet
“Saya Dibooking Pak Ginandjar”, http:m.tempo.co/read/news/1997/05/27/05577/55/saya-di-booking-pak-ginandjar. Diakses pada 19 Januari 2016.

Sumber Lisan
Rita Sugiarto, Penyanyi Dangdut, 3 Februari 2015.

Rhoma Irama, Penyanyi Dangdut, 6 Februari 2015.

Endang Supriyatna (Ndang Zulfikar), Pendiri Soneta Fans Club Indonesia, 30 Januari 2015.



DOI: https://doi.org/10.22146/lembaran-sejarah.25516

Article Metrics

Abstract views : 564 | views : 2052

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 Lembaran Sejarah

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

ISSN 2620-5882 (online) | © 2020 Lembaran Sejarah