AGAMA NELAYAN: ISLAM LOKAL DI TANAH MANDAR

https://doi.org/10.22146/kawistara.3974

Idaman Idaman(1*)

(1) Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Haluoleo, Kendari
(*) Corresponding Author

Abstract


Persentuhan Islam dengan kebudayaan Mandar, dalam catatan Arifuddin Ismail, bermula ketika Islam masuk di wilayah tersebut pada awal abad XVII M atau abad X H, tepatnya 1610 M yang dibawa oleh saudagar Arab Muslim, Syaikh Abdurrahim Kamaluddin, bersama para mubaligh

dari Makassar. Sebelumnya, kehidupan tradisional suku bangsa Mandar masih dalam suasana hinduistik. Kehadiran Islam di tengah-tengah mereka membawa ajaran dan nilai baru. Pertemuan dua kebudayaan tersebut melahirkan akulturasi antara Islam dengan kebudayaan Mandar (tradisi lokal), yang kemudiaan membentuk suatu tatanan nilai tersendiri menjadi tradisi Islam lokal, seperti kebudayaan nelayan Pambusuang.

Keywords


budaya Mandar

Full Text:

PDF



DOI: https://doi.org/10.22146/kawistara.3974

Article Metrics

Abstract views : 1146 | views : 1995

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c)



Jurnal Kawistara is published by the Graduate School, Universitas Gadjah Mada.


Copyright © 2019 Jurnal Kawistara