Penyakit Karat Putih Krisan di Sekitar Bandungan, Ambarawa

https://doi.org/10.22146/jpti.11729

Haryono Semangun(1*), Wikan Radityo(2), Lilik Nurcholis(3), Martanto Martosupono(4), Djoko Murdono(5)

(1) Fakultas Pertanian Universitas Kristen Satya Wacana
(2) Fakultas Pertanian Universitas Kristen Satya Wacana
(3) Program Studi Magister Biologi Universitas Kristen Satya Wacana
(4) Fakultas Pertanian Universitas Kristen Satya Wacana
(5) Fakultas Pertanian Universitas Kristen Satya Wacana
(*) Corresponding Author

Abstract


Chrysanthemum white rust (CWR) caused by Puccinia horiana creates severe losses on chrysanthemum (Chrysanthemum grandiflorum, Dendranthema grandiflora) in plastic houses in Bandungan (750–1050 masl.) and its surrounding. In lower elevations higher disease intensities were found around roof leakages and ventilations. In Sumowono (1000–1050 masl.) the disease was spread evenly in plastic houses. Teliospores of P. horiana develop in form of basidia (promycelia) at midnight which directly form basidiospores (sporidia). Spreading of basidiospores occur at 2 to 4 in the morning, especially at 3 a.m. Infection takes place through lower or upper surface of the leaves, as the two sides have stomata. Incubation time in this trial is 8–11 hours. Vegetative as well as generative phase of chrysanthemum have the same susceptibility. Many farmers applied inappropriate fungicides in controlling CWR. It is recommended to apply carbendazim as systemic fungicide alternated by protectant fungicides as mancozeb.

 

Karat Putih Krisan (KPK) yang disebabkan oleh P. horiana sangat merugikan pertanaman krisan (C. grandiflorum, D. grandiflora) dalam rumah plastik di sekitar kota wisata Bandungan, Ambarawa (750–1050 mdpl.). Di lokasi-lokasi yang rendah penyakit terutama berkembang di sekitar tempat-tempat yang atapnya bocor atau di sekitar ventilasi rumah plastik. Di Sumowono (1000–1050 mdpl) penyakit tersebar merata di dalam rumah plastik. Teliospora P. horiana berkembang membentuk basidium (promiselium) pada tengah malam yang segera membentuk basidiospora (sporidium). Basidiospora disebarkan pukul 02.00–04.00, terutama pukul 03.00. Infeksi dapat terjadi melalui permukaan bawah maupun atas daun. Masa inkubasi 8–11 hari. Tanaman krisan pada fase vegetatif dan fase generatif tidak berbeda ketahanannya terhadap penyakit karat putih. Sebagian petani kurang tepat memilih fungisida untuk mengendalikan karat putih. Untuk keperluan ini dianjurkan untuk memakai karbendazim sebagai fungisida sistemik, yang diseling dengan fungisida protektan seperti mankozeb.


Keywords


chrysanthemum; karat putih; krisan; management; pemancaran spora; pembentukan spora; pengendalian; spore dispersal; sporulation; white rust

Full Text:

PDF


References

Anonim. 2007. Pestisida Petanian dan Kehutanan. Pusat Perizinan dan Investasi, Sekretariat Jenderal, Departemen Pertanian, Jakarta. 574 p.

Boedijn, K.B. 1960. The Uredinales of Indonesia. Nova Hedwigia 1: 463–495. Djatnika, I. 1991. Pengendalian Penyakit Karat pada Krisan di Cipanas (Cianjur) dan Cisarua (Bandung). Prosiding Seminar Tanaman Hias, Cipanas: 167–171.

Djatnika, I. 1992. Penanggulangan Penyakit Karat pada Tanaman Krisan dengan Dua Macam Fungisida. Buletin Penelitian Hortikultura 22: 59–63.

Djatnika, I., K. Dwiatmini, & L. Sanjaya. 1994a. Ketahanan Beberapa Kultivar Krisan terhadap Penyakit Karat. Buletin Penelitian Tanaman Hias 2: 19–25.


Djatnika, I., A.B.N. Maryam, & Samijan. 1994b. Pengaruh Penyiangan dan Aplikasi Fungisida Cu dan Ni terhadap Intensitas Penyakit Karat dan Populasi Kutu Daun pada Tanaman Krisan. Buletin Penelitian Tanaman Hias 2: 51–59.

Hennings, P. 1901. Some New Japanese Rusts. Hedwigia 40: 25–26. Holliday, P. 1980. Fungus Diseases of Tropical Crops. Cambridge University Press, Cambridge. 607 p.

Kapooria, R.G. & J.C. Zadoks. 1973. Morphology and Cytology of Promycelium and the Basidiospore of Puccinia horiana. Netherlands Journal of Plant Pathology 79: 236–242.

Qosim, W.A., M. Rachmadi, Hersanti, & A. Suwarti. 2005. Korelasi antara Karakter Kerapatan Trikoma dan Stoma dengan Ketahanan Penyakit Karat pada Beberapa Kultivar Krisan. Zuriat 16: 52–59.

Semangun, H. 1968. Penelitian tentang Penyakit Bulai (Sclerospora maydis) pada Jagung, Khususnya Mengenai Cara Bertahannya Cendawan. Disertasi. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 113 p.

Semangun, H. 1989. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Ed. I, GadjahMada University Press, Yoyakarta. 850 p.

Semangun, H. 1992. Host Index of Plant Diseases in Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 351 p.

Semangun, H. 2007. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Ed. II, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 845 p.

Sukamto, Frieda. 2004. Penyakit-Penyakit Tanaman Bunga di Bandungan, Ambarawa. Skripsi. Fakultas Pertanian, Universitas Kristen SatyaWacana, Salatiga. 77 p. (Tidak dipublikasikan).

Supriyanto, H. 1986. Pengamatan Hama dan Penyakit Tanaman Krisan (Chrysanthemum morifolium) di Desa Cibadak, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur. Laporan Praktek Lapang, Fakultas Pertanian, IPB, Bogor. 39 p.



DOI: https://doi.org/10.22146/jpti.11729

Article Metrics

Abstract views : 1081 | views : 500

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2016 Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


Accredited Journal, Based on Decree of the Minister of Research, Technology and Higher Education, Republic of Indonesia Number 30/E/KPT/2018, Vol. 21 No. 1 the Year 2017 - Vol. 25 No. 1 the Year 2021. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia ISSN 1410-1637 (print), ISSN 2548-4788 (online) is indexed by: :