PERSEPSI APOTEKER DAN PASIEN TERHADAP PENERAPAN SISTEM PEMBAYARAN JKN PADA APOTEK

https://doi.org/10.22146/jmpf.349

Satibi Satibi(1*), Dewa Ayu Putu Satrya Dewi(2), Atika Dalili Akhmad(3), Novita Kaswindiarti(4), Dyah Ayu Puspandari(5)

(1) Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
(2) Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogtakarta
(3) Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
(4) Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
(5) Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
(*) Corresponding Author

Abstract


Pelayanan kesehatan pada era JKN diselenggarakan oleh semua Fasilitas Kesehatan (faskes) yang bekerja  sama dengan BPJS Kesehatan. Pelayanan kesehatan dapat dilakukan berdasarkan perjanjian kerjasama antara BPJS dan faskes, bagi faskes yang tidak mempunyai sarana kefarmasian dapat menjalin kerja sama dengan apotek dalam hal pelayanan kefarmasian. Metode pembayaran untuk jasa pelayanan kesehatan pada era JKN menggunakan sistem kapitasi dan pembayaran langsung oleh BPJS kepada faskes. Namun masalah yang sering timbul dan menjadi pertanyaan dalam program JKN adalah mutu pelayanan, masyarakat masih ragu dengan mutu pelayanan yang diberikan oleh faskes. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana sistem kapitasi JKN dilihat dari sudut pandang Apoteker untuk mengetahui persepsi apoteker dan pasien terkait dengan sistem kapitasi JKN di Apotek PRB, Apotek Jejaring, dan Apotek Klinik Pratama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik menggunakan kuesioner yang berisi pernyataan tentang persepsi apoteker terhadap  profit, klaim biaya, perjanjian  kerjasama, dan pelayanan, sedangkan pada   pasien  tentang kualitas, jumlah, dan ketersediaan obat dan pembayaran obat. Data statistik dianalisis menggunakan analisis dengan Kruskal Wallis test dan uji post hoc Mann Whitney dengan melihat nilai signifikansi (p). Hasil penelitian di Apotek PRB, Apotek Jejaring dan Apotek Klinik Pratama, yaitu terdapat perbedaan persepsi apoteker pada indikator profit (p = 0,003) dan indikator pelayanan (p = 0,001), namun tidak terdapat perbedaan persepsi apoteker pada indikator klaim biaya (p = 0,0546) dan  indikator perjanjian kerjasama (p = 0,606). Selanjutnya, untuk persepsi pasien rawat jalan yaitu  terdapat perbedaan persepsi pasien pada indikator kualitas dan ketersediaan obat (p = 0,000), tetapi tidak terdapat perbedaan persepsi pasien rawat jalan pada indikator jumlah (p= 0,667) dan indikator pembayaran (p = 0,057). Berdasarkan biaya obat, yaitu terdapat perbedaan biaya obat (p = 0,000) pada apotek PRB, Apotek Jejaring, dan Apotek Klinik Pratama.

Keywords


sistem pembayaran JKN; Apotek; persepsi; apoteker; pasien; JKN payment systems; pharmacy; perception; pharmacist; patient



References

Kreitner R., Kinicki A.,2001, Organizational Behaviour, 5th Ed, Mc Graw-Hill Companies Inc., New York.

Pracht, E.E. dan Moore, W.J., 2003. Interest Group And State Medicaid Drug Programs. Duke University Press, 28: 9– 39.

Rubiyanto, N., 2014. Penyebaran Apotek Didominasi di Kabupaten Sleman. www.bpjs.info,

Sudarsono, 2014. Jasa Pelayanan Apoteker Pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama di
Era Jaminan Kesehatan Nasional. Apoteker.info, .

Sulastomo, 2002. Asuransi Kesehatan Sebuah Pilihan. Raja Grafindo, Jakarta.

Walgito, B., 2004. Pengantar Psikologi Umum. Andi Offset, Yogyakarta.

Winariski, 2014. 'Pengaruh Persepsi Provider Swasta Tentang Implementasi Jaminan Kesehatan Nasional Terhadap Keikutsertaan Sebagai Provider Pratama BPJS Kesehatan di Kota Medan Tahun 2014', . Universitas Sumatera Utara, Medan.



DOI: https://doi.org/10.22146/jmpf.349

Article Metrics

Abstract views : 747 | views : 1872

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2016 JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice)

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

This Journal is Indexed on:


Web
Analytics View My Stats