PERSEPSI PRESEPTOR TERHADAP KEY INDICATORS KOMPETENSI PHARMACEUTICAL CARE PADA PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK

https://doi.org/10.22146/jmpf.362

Bondan Ardiningtyas(1*), Marchaban Marchaban(2), Hari Kusnanto(3), Achmad Fudholi(4)

(1) Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
(2) Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
(3) Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
(4) Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
(*) Corresponding Author

Abstract


Praktek Kerja Profesi Apoteker adalah tahap penting untuk meningkatkan keterampilan pharmaceutical care mahasiswa. Tidaklah mudah bagi preseptor untuk menilai peningkatan kompetensi mahasiswa dalam waktu yang singkat, sehingga diperlukan key indicators.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja key indicators kompetensi pharmaceutical care pada Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek berdasarkan persepsi preseptorditinjau dari tingkat kepentingan dan resiko kejadian medication error. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif ekploratif menggunakan rancangan cross sectional observation menggunakan kuessioner. Subyek penelitian adalah seluruh preseptor PKPA di Daerah Istimewa Yogyakarta sebanyak 22 preseptor, dengan kriteria inklusi: mendapatkan rekomendasi dari organisasi profesi dan bersedia menjadi responden. Kriteria eksklusi adalah preseptor yang mengundurkan diri ketika penelitian berlangsung. Indikator kunci ditetapkan berdasarkan nilai mean rank tertinggi. Hasil penelitian diperoleh 11 indikator kompetensi ditinjau dari tingkat kepentingan (indikator nomor 13; 14; 19;12; 18; 1; 16; 22; 2; 15; dan 33) .dan 11 indikator kompetensi ditinjau dari tingkat resiko kejadian medication error(indikator nomor 14; 16; 12; 13; 22; 9; 15; 8; 23; 17; dan 19).Indikator hasil intersection (irisan) dari kedua kelompok indikator tersebut diperoleh 7 key indicator yaitu indikator nomor 12, 13, 14, 15, 16, 19 dan 22 sebagai key indicatorskompetensi pharmaceutical care pada PKPA di Apotek berdasarkan persepsi preseptor yaitu: menyerahkan obat disertai informasi obat, menyampaikan informasi obat dengan benar, menyiapkan obat dengan benar, melakukan peracikan obat bila diperlukan, membuat etiket obat,melakukan pelayanan informasi obatdan memberikan konseling kepada pasien.


Keywords


key indicators; kompetensi; pharmaceutical care; PKPA; competency; pharmaceutical care; the pharmacy internship; pharmacies



References

1. Carr M. Learning dispositions and key competencies: a new curriculum continuity across the sectors? Early Child Folio. 2006; 10:21-27. http://go.galegroup.com.libproxy.unitec.ac.nz/ps/i.do?id=GALE%7CA175444912&sid=googleScholar&v=2.1&it=r&linkaccess=fulltext&issn=01120530&p=AONE&sw=w.

2. Cerulli J. Experiential education in community pharmacy. Am J Pharm Educ. 2006;70(1):19. doi:10.5688/aj700119.

3. Chaar BB, Brien JA, Hanrahan J, McLachlan A, Penm J, Pont L. Experimental education in Australian pharmacy: Preceptors’ perspectives. Pharm Educ. 2011;11(1):166-171.

4. Dominique S. Rychen LHS, ed. Key Competencies for a Successful Life and a Well-Functioning Society. Hogrefe Publishing; 2003.

5. Dugan BD. Enhancing community pharmacy through advanced pharmacy practice experiences. Am J Pharm Educ. 2006;70(1):21. doi:10.5688/aj700121.

6. Fejzic J, Henderson A, Smith NA, Mey A. Community pharmacy experiential placement: Comparison of preceptor and     student     perspectives      in    an

Australian postgraduate pharmacy programme. Pharm Educ. 2013;13(1):15-21.

7. Kassam R. Students’ and preceptors’ experiences and perceptions of a newly developed community pharmacy pharmaceutical care clerkship. Pharm Educ. 2006;6(3):179-188. doi:10.1080/15602210600952241.

8. Wallman A, Gustavsson M, Lindblad ÅK, Ring L. An exploration of how students learn in a pharmacy internship. Pharm Educ. 2011;11(1):177-182.

9. Wiedenmayer K, Summers RS, Mackie CA et al. Developing Pharmacy Practice: A Focus on Patient Care. Geneva: World Health Organization; 2006. http://www.who.int/iris/handle/10665/69399%0A %0A%0A.

10. Singapore Pharmacy Council. Competency Standards for Pharmacists in Singapore (Entry to Practice).; 2010.

11. Pharmaceutical Society of Australia. Professional Practice Standards, Version 4.; 2010.

12. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek.; 2014.

13. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah RI No 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian.; 2009.

14. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan RI No 889/Menkes/Per/V/2011 Tentang Registrasi, Izin Praktik Dan Izin Kerja Tenaga Farmasi.; 2011.

15. Ikatan Apoteker Indonesia. Standar Kompetensi Apoteker Indonesia.; 2014.



 


 



DOI: https://doi.org/10.22146/jmpf.362

Article Metrics

Abstract views : 375 | views : 984

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice)

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

This Journal is Indexed on:


Web
AnalyticsView My Stats