Daya Simpan Benih Kacang Hijau (Vigna radiata (L.) R. Wilczek) Hasil Tumpangsari dengan Jagung Manis (Zea mays L. saccharata) dalam Barisan

https://doi.org/10.22146/veg.24631

Abdillah Muhammad(1*), Setyastuti Purwanti(2), Supriyanta Supriyanta(3)

(1) 
(2) Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada
(3) Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada
(*) Corresponding Author

Abstract


Tumpangsari dapat dijadikan solusi dalam upaya peningkatan produksi kacang hijau di
lahan sempit, baik untuk konsumsi maupun penggunaan benih secara umum.
Penelitian ini bertujuan mengetahui kualitas dan daya simpan benih kacang hijau yang
ditanam secara tumpangsari dengan jagung manis dibandingkan monokultur, dan juga
mengetahui komposisi jumlah baris optimal tanaman jagung yang ditanam secara
tumpangsari dengan jagung manis yang dapat menghasilkan benih dengan daya
simpan yang tinggi. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih dan
rumah kaca, Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta pada bulan November 2014 hingga April 2015. Penelitian dilakukan dengan pendekatan percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) satu
faktor dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah
tumpangsari kacang hijau dengan jagung manis dengan kombinasi baris yaitu 3:1, 4:1,
5:1, 6:1, dan monokultur kacang hijau. Pengujian benih dilakukan setiap bulan selama
6 bulan terhadap gaya berkecambah, indeks vigor, vigor hipotetik, kadar air benih, dan
daya hantar listrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem tanam tumpangsari
kacang hijau, dengan berbagai pengaturan baris (3:1, 4:1, 5:1, dan 6:1), sama baiknya
dengan sistem tanam monokultur dalam hal daya simpan benih yang dihasilkannya
setelah disimpan selama 6 bulan. Sistem tanam tumpangsari kacang hijau dengan
pengaturan baris 6:1 direkomendasikan karena memiliki nilai NKL yang lebih dari 1,
serta masih memiliki gaya berkecambah, indeks vigor, dan nilai DHL yang baik setelah
mengalami 6 bulan penyimpanan.

Keywords


benih kacang hijau, daya simpan, tumpangsari, tanaman jagung manis



References

Atman. 2007. Teknologi budidaya kacang hijau (Vigna radiata L.) di lahan sawah. Jurnal ilmiah Tambua. VI. No. 1. P: 89-95. Badan Pusat Statistik. 2014. Produksi kacang hijau menurut provinsi (ton), 1993-2014. www.bps.go.id. Diakses pada tanggal 28 Agustus 2014. Badan Pusat Statistik. 2014. Produktivitas kacang hijau menurut provinsi (kuintal/ha), 1997-2014. www.bps.go.id. Diakses pada tanggal 28 Agustus 2014. Badan Pusat Statistik. 2014. Luas panen kacang hijau menurut provinsi (ha), 1997– 2014. www.bps.go.id. Diakses pada tanggal 28 Agustus 2014. Chavez, V. P. and T. C. Mendoza. 1986. Seed quality of three field legumes as affected by sugarcane intercropping. Crop Science Society of The Philippines. P: 61-66. Mendoza, T. C. 1979. Optimum arrangement in sugarcane-legumes intercropping. M.S. Thesis. University of the Philippines at Los Banos. p: 5-20. 12 Ogutu, M.O., J.O. Owuoche, R. Muasya, G. Ouma. 2012. Effects of interspesific interaction of nitrogen fertilizer and bean-maize cropping systems on quality of bean seed in Western Kenya. Kenya Agricultural Research Institute. Kenya. p: 154-168. Purnomo, dan Rudi, H. 2005. Kacang hijau. Penebar Swadaya. Bogor. Pusat data dan informasi pertanian. 2014. Statistik konsumsi pangan 2014. Kementerian pertanian. Jakarta. Sucipto. 2009. Dampak pengaturan baris tanam jagung (Zea mays L.) dan populasi kacang hijau dalam tumpangsari terhadap pertumbuhan dan hasil kacang hijau dan jagung. Fakultas Pertanian. Universitas Trunojoyo. Bangkalan.



DOI: https://doi.org/10.22146/veg.24631

Article Metrics

Abstract views : 700 | views : 6487

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 Vegetalika



VEGETALIKA journal indexed by: 

 

       

  

View My Stats