Determinan sosial dan dampak kesehatan pernikahan dini di Lombok Timur

https://doi.org/10.22146/bkm.40472

Rina Tri Agustini(1*)

(1) Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada
(*) Corresponding Author

Abstract


Tujuan: Penelitian ini menganalisis determinan sosial dan dampak yang berkaitan dengan kesehatan dari kejadian pernikahan dini di Kabupaten Lombok Timur. Metode: Jenis penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Pengambilan data dilakukan melalui studi pustaka dari jurnal terkait dan wawancara mendalam kepada dua orang informan berdasarkan purposive sampling. Analisis data menggunakan Social Cognitive Theory untuk mengidentifikasi determinan sosial terkait pernikahan dini di Kabupaten Lombok Timur. Selain itu, peneliti juga melakukan analisis dampak kesehatan berdasarkan aspek fisik, mental, dan sosial. Hasil: Determinan sosial kejadian pernikahan dini di Kabupaten Lombok Timur berdasarkan hasil penelitian ini yaitu: (1) faktor personal meliputi pendidikan rendah dan faktor agama; (2) perilaku yaitu kehamilan di luar pernikahan, dan (3) pengaruh lingkungan meliputi lingkungan keluarga, budaya lokal, dan pola pikir masyarakat setempat. Sedangkan dampak kesehatan yang dapat ditimbulkan dari pernikahan dini berdasarkan penelitian ini antara lain: (1) aspek fisik meliputi infeksi menular seksual, komplikasi dalam melahirkan, dan gangguan kesehatan anak yang dilahirkan; (2) aspek mental yaitu beban pikiran; dan (3) aspek sosial meliputi gunjingan di tengah masyarakat, permakluman terhadap hal negatif yang tidak diinginkan, dan memicu tindakan kriminal. Simpulan: Sehubungan dengan perencanaan intervensi dalam menanggulangi permasalahan pernikahan dini di Kabupaten Lombok Timur, pihak yang terlibat harus memperhatikan prinsip relativisme budaya setempat. Oleh karena itu, beberapa upaya yang dapat dilakukan berkaitan dengan masalah ini yaitu: (1) memahami budaya lokal pernikahan dini secara komprehensif; (2) melakukan komunikasi lintas sektor; (3) melibatkan partisipasi masyarakat setempat; dan (4) menyusun program dengan memperhatikan budaya lokal masyarakat.


Keywords


dampak kesehatan; determinan sosial; pernikahan dini; social cognitive theory



References

  1. Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
  2. Abdullah I, Djumardin . Legal Protection Setting of Post-Divorce Women’s Rights: Case Study of Siri Marriage in Lombok. Mediterr J Soc Sci [Internet]. 2017;8(3):297–304. Tersedia di: http://www.mcser.org/journal/index.php/ mjss/article/view/9966.
  3. Udgiri R. Original Article Socio-demographic factors for early marriage and early pregnancy – A community based study. 2017;5(59):59–67.
  4. EA Envuladu, dkk. Determinants and effect of girl child marriage: a cross sectional study of school girls in Plateau State , Nigeria. 2016;5(3).
  5. Delprato M, Akyeampong K, Dunne M. Intergenerational Education Effects of Early Marriage in Sub-Saharan Africa. World Dev. 2017;91:173–92.
  6. Yüksel-Kaptanoglu I, Ergöçmen, BA. Early Marriage: Trends in Turkey, 1978-2008. Entre Nous. 2012;(76):1–28.
  7. Delprato M, Akyeampong K, Sabates R, Hernandez-Fernandez J. On the impact of early marriage on schooling outcomes in Sub-Saharan Africa and South West Asia. Int J Educ Dev [Internet]. 2015;44:42–55. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.ijedudev.2015.06.001.
  8. Seputar NTB (online) tanggal 31 Agustus 2017. Tinggi Pernikahan Dini di Lotim. Tersedia di: http://www.seputarntb.net/2017/08/tinggi-pernikahan-dini-di-lotim.html.
  9. Glanz, dkk. Health Behavior and Health Education: Theory, Research, and Practice. Jossey Bass. 2008.
  10. Social and Behavioral Theory. E-Source of Behavioral and Social Science Research. National Intitute of Health. Tersedia di [Internet]: http://www.esourceresearch.org/Default.aspx?TabId=734.
  11. Rhadiyah P, Permata T, Marcely R, Montovani D. Adolescent’s Self-Efficacy for Early Marriage in South Bangka Regency, Indonesia. 2016;5(4).
  12. Erulkar A. International Perspectives on Sexual and Reproductive Health, vol. 39, issue 1. 2013;pp. 6-13.
  13. Sennott C, Reniers G, Gómez-olivé FX, Menken J, Menken J. Premarital Births and Union Formation in Rural South Africa. 2017;42(4):187–96.
  14. Sabbe A, Oulami H, Hamzali S, Oulami N, Zehra F, Hjir L. Women s perspectives on marriage and rights in Morocco risk factors for forced and early marriage in the Marrakech region. 2015;17(2):135–49.
  15. Nasrullah M, Muazzam S, Bhutta ZA, Raj A. Girl child marriage and its effect on fertility in Pakistan: Findings from Pakistan Demographic and Health Survey, 2006-2007. Matern Child Health J. 2014;18(3):534–43.
  16. World Health Organization. Child, early and forced marriage legislation in 37 Asia-Pacific countries. 2016. 148 p.
  17. Howson A. Cultural Relativism. EBSCO Research Starters. 2009;pp. 1–5. doi: 10.1353/hrq.2000.0027.
  18. Follona W, Raksanagara AS, Purwara BH. Perbedaan Pendidikan Kelompok Sebaya tentang Pendewasaan Usia Perkawinan di Perkotaan dan Perdesaan. Kesmas Natl Public Heal J [Internet]. 2014;9(2):157. Tersedia di: http://journal.fkm.ui.ac.id/kesmas/article/view/518.
  19. Nurjanah R, Estiwidani D, Purnamaningrum YE. Penyuluhan dan Pengetahuan Tentang Pernikahan Usia Muda Counseling and Knowledge of the Young Age Marriage. 2012;1–5.
  20. Hahn, Robert & Marcia C. Inhorn. (2009). Anthropology and Public Health: Bringing Differences in Culture and Society. 2nd ed. Oxford University Press.
  21. Creswell, John W. (2014) Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. SAGE Publications, 4th ed.



DOI: https://doi.org/10.22146/bkm.40472

Article Metrics

Abstract views : 1429 | views : 868

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2018 Berita Kedokteran Masyarakat

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Berita Kedokteran Masyarakat ISSN 0215-1936 (PRINT), ISSN: 2614-8412 (ONLINE).

Indexed by:


Web
Analytics Visitor Counter