Kurikulum pendidikan kesehatan di sekolah sebagai upaya meningkatkan kesadaran hidup sehat sejak dini

https://doi.org/10.22146/bkm.37658

Afifah Nasyahta Dila(1*)

(1) KMPK FKKMK, Universitas Gadjah Mada
(*) Corresponding Author

Abstract


Intervensi kesehatan terkait PHBS harus semakin berkembang terutama pada anak dan remaja selaku aset bangsa. Permasalahan perilaku tidak sehat terkait personal hygiene, kebiasaan sehat dan asupan gizi belum teratasi secara sempurna. Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang berupaya mengatasi masalah PHBS dan merokok pada anak melalui program Buku Harian Anak Terhebat (BHAT). Namun program ini hanya menjangkau siswa kelas 4 dan 5 SD serta belum menentukan strategi sustainabilitas program dan pencapaian harapan. Sedangkan masalah kesehatan bagi anak dan remaja semakin meluas. Kebiasaan merokok, pesta miras, penyalahgunaan narkoba, perilaku seks bebas, balapan liar hingga penggunaan media sosial yang menyimpang merupakan ancaman bagi anak dan remaja di Kabupaten Lumajang. Pemerintah seharusnya mulai merancang intervensi kesehatan untuk mencegah perilaku menyimpang dan tidak sehat bagi seluruh tingkat pendidikan di Lumajang. Salah satu upaya yang dapat dilakukan Pemerintah Kabupaten Lumajang untuk menciptakan kota ramah anak melalui pembentukan kurikulum pendidikan kesehatan. Pemerintah Kabupaten Lumajang dapat memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai media penyampaian intervensi kesehatan karena berpotensi tinggi untuk diterima secara berkelanjutan oleh anak dan remaja dari berbagai etnis dan tingkat sosial ekonomi. Intensitas penyampaian intervensi kesehatan di sekolah mempengaruhi efektifitas dari pesan kesehatan, sehingga jika setiap minggu siswa menerima pendidikan kesehatan selama 1 jam pelajaran dan diberikan sejak tingkat SD hingga SMA maka upaya meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku hidup bersih dan sehat sejak dini telah tercapai secara sustainabilitas. Pembuatan kurikulum pendidikan kesehatan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Dinas Kesehatan berperan sebagai middle manager melakukan lobbying terhadap Bupati untuk menyetujui program tersebut serta meminta dukungan lintas sektor. Dinas Pendidikan dan Kementerian agama sebagai technostructure merancang kurikulum pendidikan kesehatan di SD hingga SMA. Dinas Kesehatan juga memberikan sosialisasi dan capacity building bagi operating core yaitu Puskesmas dan sekolah terkait penyampaian pesan kesehatan yang efektif kepada anak dan remaja.


Keywords


child health; adolescent health; school health programs

Full Text:

PDF



DOI: https://doi.org/10.22146/bkm.37658

Article Metrics

Abstract views : 1039 | views : 634

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2018 Berita Kedokteran Masyarakat

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Berita Kedokteran Masyarakat ISSN 0215-1936 (PRINT), ISSN: 2614-8412 (ONLINE).

Indexed by:


Web
Analytics Visitor Counter