Pleomorfik Adenoma pada Palatum

https://doi.org/10.22146/majkedgiind.15652

Cahya Yustisia Hasan(1*), Muhammad Masykur Rahmat(2)

(1) Bagian Bedah Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
(2) Bagian Bedah Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
(*) Corresponding Author

Abstract


Latar Belakang: Pleomorfik adenoma (mixed tumor) adalah tumor kelenjar ludah yang paling sering terjadi (65%) pada kelenjar ludah mayor dan minor. Lokasi intraoral yang paling sering ditemukan adalah palatum. Tujuan: membahas gambaran klinis dan penatalaksanaan pleomorfik adenoma pada platinum. Kasus: dilaporkan 2 buah kasus pleomorfik adenoma pada palatum. Kasus pertama seorang laki-laki usia 29 tahun dengan benjolan pada palatum kanan ukuran 3x2 cm, konsistensi kenyal, berbatas tegas, warna seperti jaringan sekitar dan tidak nyeri. Pasien pernah menjalani operasi pada palatum kanan pada tahun 2005, dan kira-kira 3 tahun setelah operasi benjolan tersebut kambuh di tempat yang sama. Hasil biopsi aspirasi jarum halus adalah mixed tumor. Kasus kedua seorang wanita 22 tahun dengan benjolan pada palatum kiri ukuran 2x1,5 cm, timbul sejak 3 tahu yang lalu, warna seperti jaringan sekitar, konsistensi kenyal, dan tidak nyeri. Riwayat pesien menggunakan kontrasepsi hormonal. Hasil biopsi condong pada adenoma pleomorfik dengan bagian onkositik adenoma dan clear sel adenoma. Penatalaksanaan: dilakukan eksisi luas di bawah anestesi umum pada kedua kasus tersebut, dengan batas 1 cm dari tepi lesi pada jaringan sehat. Kesimpulan : telah dilakukan eksisi luas untuk penanganan kedua kasus pleomorfik adenoma dan palatum. Tidak di temukan rekurensi 1 tahun setelah operasi (kasus 1) dan 2 tahun setelah operasi (kasus 2).

 

Blackground: pleomorphic adenoma (mixed tumor) is the most common tumor of the salivary glands (65%) of the major dan minor salivary glands. Palatum is the most common site in intraoral. Purpose: to elaborate clinical feature and management of pleomophic adenoma of palate. Cases: we reported 2 cases pleomorphic adenoma of palate. The first case was a29 years old male patient with a swelling at the right side of the palate, 3x2 cm sized mass, rubbery in consistency, well demarcated, pinkish in color, and pain less. He had undergone an operation at the right palate in 2005, but 3 years after the operation he got reccurence. The result of fine needle aspiration biopsy was mixed tumor. The second case was fermale 22 years old patient with a swelling at the left side of palate, 2x1,5 cm sized mass, was present 3 years before coming to the clinic, pinkish color, rubbery consistency and painless. She has been using hormonal contraception. The result of incisional biopsy was pleomorphic adenoma with the oncocityc adenoma part and clear cell adenoma. Management: widw exicion was performed under general anesthesia in both cases, with a limit 1 cm clinical margin at its periphery. Conclusion: both patients with pleomorphic adenoma ao palate were treated by wide excision. No recurrence were observed in 1 year (firs case) and 2 years (second case) after the surgery.


Keywords


Pleomorfik Adenoma; Kelenjar Ludah Minor; Palatum; pleomorphic adenoma; salivary gland tumor; palate

Full Text:

PDF



DOI: https://doi.org/10.22146/majkedgiind.15652

Article Metrics

Abstract views : 2824 | views : 5162

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2016 Majalah Kedokteran Gigi Indonesia




Currently, Majalah Kedokteran Gigi Indonesia indexed by:

         

 

 

 

 

 

 View My Stats


real
time web analytics