Penilaian Risiko Bencana Longsor di Wilayah Kabupaten Serang

https://doi.org/10.22146/mgi.38674

Heru Sri Naryanto(1*), Qoriatu Zahro(2)

(1) Pusat Teknologi Reduksi Risiko Bencana, Kedeputian Teknologi Sumberdaya Alam, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kota Tangerang Selatan, Indonesia
(2) Pusat Teknologi Reduksi Risiko Bencana, Kedeputian Teknologi Sumberdaya Alam, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kota Tangerang Selatan, Indonesia
(*) Corresponding Author

Abstract


Kabupaten Serang membutuhkan peta bahaya, peta kerentanan dan peta risiko bencana tanah longsor sebagai dasar dalam pengurangan risiko. Parameter dan bobot untuk pembuatan peta bahaya longsor adalah: kelerengan (50%), kondisi geologi (20%), curah hujan (15%) dan penggunaan lahan (15%). Zona bahaya tanah longsor tinggi di Kabupaten Serang terdapat di kecamatan-kecamatan Padarincang, Ciomas, Mancak, Anyar, Cinangka, Pulo Ampel dan Bojonegara. Pembuatan peta kerentanan digunakan kerentanan sosial dengan indikatornya adalah: kepadatan penduduk, rasio jenis kelamin, rasio kemiskinan, rasio orang cacat dan rasio kelompok umur. Peta risiko tanah longsor dibuat dengan mengoverlaykan dari peta bahaya tanah longsor dan peta kerentanan. Pembuatan peta bahaya, peta kerentanan dan peta risiko mengunakan teknik overlay atau tumpang tindih dengan software ArcGIS. Daerah berisiko rendah di Kabupaten Serang seluas 92.416 ha (63,6% dari seluruh luas Kabupaten Serang), berisiko sedang seluas 46.971 ha. (32,3%) dan yang berisiko tinggi 5.907 ha. (4,1%). Bila dilihat dari tingkatan kecamatan, 5 urutan teratas kecamatan yang memiliki luasan daerah berisiko tinggi terbesar adalah Kecamatan Anyar (1.498 ha), Pulo Ampel (1,082 ha), Bojonegara (1.019 ha), Baros (828,5 ha) dan Padarincang (561 ha). Peta bahaya, peta kerentanan dan peta risiko sangat dibutuhkan oleh Pemerintah Kabupaten Serang, selain sebagai acuan kegiatan pengurangan risiko bencana juga untuk penataan kawasan yang aman berkelanjutan.

 

Serang District requires hazard maps, vulnerability maps and risk maps as a basis for reducing the risk of landslides. Parameters and weights for making landslide hazard maps are: slope (50%), geological conditions (20%), rainfall (15%) and land use (15%). High landslide hazard zones in Serang District are found in the sub-districts of Padarincang, Ciomas, Mancak, Anyar, Cinangka, Pulo Ampel and Bojonegara. Making a vulnerability map used social vulnerability with indicators: population density, sex ratio, poverty ratio, ratio of disabled people and ratio of age groups. Landslide risk maps are made by overlaying landslide hazard maps and vulnerability maps. Making hazard maps, vulnerability maps and risk maps using overlay techniques with ArcGIS software. Low-risk areas in Serang District covering 92,416 ha (63.6% of the total area of Serang Regency), medium risk of 46,971 ha. (32.3%) and high risk 5,907 ha. (4.1%). When viewed from the sub-district level, the top 5 sub-districts that have the largest high-risk areas are Anyar District (1,498 ha), Pulo Ampel (1,082 ha), Bojonegara (1,019 ha), Baros (828.5 ha) and Padarincang (561 ha ) Hazard maps, vulnerability maps and risk maps are urgently needed by the Serang District Government, in addition to being a reference for disaster risk reduction activities as well as for the sustainable arrangement of areas.

 


Keywords


Longsor; Serang; peta bahaya; kerentanan dan risiko; pengurangan risiko bencana

Full Text:

PDF


References

Bappeda Kabupaten Serang (2011), Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Serang Tahun 2011-2031.

Akhirianto, N.A., & H.S. Naryanto (2016). Kajian kapasitas dan persepsi masyarakat Pangalengan terhadap bencana tanah longsor. Jurnal Riset Kebencanaan Indonesia, 2(2).

BNPB (2012), Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 02 tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana.

BPS Kabupaten Serang (2016), Kabupaten Kabupaten Serang Dalam Angka.

Das B.M. (1994), Principle of Foundation Engineering, PWS-KENT Publishing Company, Boston.

Naryanto, H.S. (2011), Analisis risiko bencana tanah longsor di Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, Jurnal Penanggulangan Bencana, 2 (1), 21-32.

Naryanto, H.S. (2013), Analisis dan evaluasi kejadian bencana tanah longsor di Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat tanggal 25 Maret 2013, JSTMB, 8 (1), 39-49.

Naryanto, H.S. (2016), Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengurangan risiko bencana tanah

longsor (gerakan tanah) di Indonesia, BPPT Press, 152 hal.

Naryanto, H.S. (2017), Analisis kejadian bencana tanah longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah tanggal 12 Desember 2014, Jurnal Alami 1 (1), 1-9.

Naryanto, H.S. (2018), Kajian peta bahaya tanah longsor di Kabupaten Banggai Laut, Provinsi Sulawesi Tengah, Jurnal Alami, 2 (1), 36-46.

Naryanto, H.S., Prihartanto, Q. Zahro, H. Soewandita, F. Prawiradisastra, A.P. Raharjo, Wisyanto, B. Marwanta, dan D.A. Tiwi (2017), Master plan dan action plan kebencanaan di Kabupaten Serang, BPPT-BPBD Kabupaten Serang, Laporan, Tidak Diterbitkan.

Naryanto, H.S., F. Prawiradisastra dan A. Kristijono (2018), Penataan kawasan pasca bencana tanah longsor di Puncak Pass, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur Tanggal 28 Maret 2018, Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL), Dalam Proses Editing.

Rahmad, R., Suib dan A. Nurman (2018), Aplikasi  SIG  untuk  pemetaan  tingkat  ancaman  longsor  di  Kecamatan  Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Majalah Geografi Indonesia, 32 (1), 1-13.

Rusmana, E., K Suwitodirdjo dan Suharsono (1991), Geologi Lembar Serang, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Badan Geologi, Bandung.

Sugiyono (2010). Metode penelitian (Pendekatan kuantitatif, kualitatif dan R&D), Alfabetha, Bandung.

SNI (Standar Nasional Indonesia) (2005). Penyusunan peta zona kerentanan gerakan tanah, ICS 07.060 Badan Standardisasi Nasional, SNI 13-7124-2005.

Wang, F., Xu, P., Wang, C., Wang, N., & Jiang, N. (2017). Application of  a  GIS-Based Slope Unit Method for Landslide Susceptibility Mapping along the Longzi River, Southeastern Tibetan Plateau, China. ISPRS International Journal of Geo-Information, 6(6), 172.

 



DOI: https://doi.org/10.22146/mgi.38674

Article Metrics

Abstract views : 256 | views : 159

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2020 Majalah Geografi Indonesia

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


 

Accredited Journal, Based on Decree of the Minister of Research, Technology and Higher Education, Republic of Indonesia Number 30e/KPT/2018

Volume 31 No 2 the Year 2017 for Volume 35 No 2 the Year 2021

ISSN  0215-1790 (print) ISSN 2540-945X  (online)

 

website statistics Statistik MGI