Strategi Penghidupan Masyarakat Pasca Erupsi 2010 Kaitannya Dengan Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Berikutnya

https://doi.org/10.22146/mgi.29129

Nurhadi Nurhadi(1), Suparmini Suparmini(2), Arif Ashari(3*)

(1) Jurusan Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta
(2) Jurusan Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta
(3) Jurusan Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta
(*) Corresponding Author

Abstract


Penelitian ini bertujuan menganalisis: (1) strategi penghidupan masyarakat pasca erupsi, (2) karakteristik lingkungan fisik dan potensi sumberdaya pendukung penghidupan, (3) tingkat kesiapsiagaan masyarakat berdasarkan strategi penghidupan dan karakteristik lingkungan fisik serta potensi sumberdaya pendukung; pada kawasan rawan bencana III Kecamatan Srumbung. Metode yang digunakan adalah deskriptif-eksplanatif dengan pendekatan ekologi. Data dikumpulkan dengan wawancara, FGD, dan observasi. Hasil penelitian: (1) Kerusakan lahan dan tanaman pasca erupsi menyebabkan petani tidak dapat memperoleh penghidupan dari usaha tani. Dalam situasi darurat, upaya memperoleh penghidupan terutama dengan bekerja di bidang lain sebagai pedagang, buruh, pertambangan tradisional, dan karyawan swasta. Berdasarkan tipologi strategi penghidupan rumahtangga, sebagian besar termasuk dalam strategi konsolidasi dan paling sedikit strategi akumulasi. (2) Potensi sumberdaya alam cukup banyak berupa sumberdaya lahan, air, hayati, dan mineral. (3) Kesiapsiagaan menghadapi bencana berikutnya masih perlu ditingkatkan, didasari oleh masih sedikit masyarakat yang mengalokasikan tabungan untuk situasi darurat dan cara bertani masih sama dengan sebelum bencana.

 

This Research aims to analyze: (1) community livelihood strategies after eruption, (2) characteristics of physical environment and potential resources to support livelihood, (3) level of preparedness community based livelihood strategies and characteristics of physical environment and resources; at disaster-prone areas III Srumbung Subdistrict. The method used is descriptive-explanative with ecological approach. Data were collected through interviews, FGD, and observations. The result: (1) Land and crop damage after the eruption caused farmers cannot earn living from farming. In emergency situation, efforts to obtain a living mainly by working in other fields as merchants, laborers, traditional mining, and private sector employees. Based on the typology of livelihood strategies of households, mostly included in consolidation strategy and and the least is accumulation strategy. (2) There are quite a lot of natural resources such as land, water, biological, and mineral resources. (3) Preparedness in the face of the next disaster still needs to be improved.

 

 


Keywords


strategi penghidupan; bencana erupsi; merapi

Full Text:

PDF


References

Andreastuti, S,D., Newhall, C., dan Dwiyanto, J. (2006). Menelusuri Kebenaran Letusan Gunung Merapi 1006. Jurnal Geologi Indonesia 1 (4): 201-207.Baiquni, M. 2007. Strategi Penghidupan di Masa Krisis. Yogyakarta: Ideas Media.

Baiquni, M. (2007). Strategi Penghidupan di Masa Krisis, Belajar Dari Desa. Yogyakarta: Ideas Media.

BNPB. (2011). Dampak Letusan Gunung Merapi Mencapai Rp 3,56 Trilyun. Gema BNPB Vol 2 No 1 Maret 2011.

BPS. (2015). Kecamatan Dalam Angka, Kecamatan Srumbung 2015. Magelang: BPS Kabupaten Magelang.

Kaku, K. dan Held, A. (2013). Sentinel Asia: Space-based Disaster management Support System in the Asia-Pacific Region. International Journal of Disaster Risk Reduction 6 (2013): 1-17

Setyawati, S. dan Ashari, A. (2017). Geomorfologi Lereng Baratdaya Gunungapi Merapi Kaitannya dengan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Kebencanaan. Geomedia 15 (1): 41-56

Rijanta, R., Hizbaron, DR., Baiquni, M. (2014). Modal Sosial dalam Manajemen Bencana. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Subandriyo. (2011). Sejarah Erupsi Gunung Merapi dan Dampaknya Terhadap Kawasan Borobudur. diakses melalui www.konservasiborobudur.org tanggal 9 Oktober 2013.

Sudibyakto. (1997). Manajemen Bencana Alam dengan Pendekatan Multidisiplin: Studi Kasus Bencana Gunung Merapi. Majalah Geografi Indonesia 12 (22): 31-41.

Sudibyakto. (2011)a. Risiko Bila Merapi Meletus. dalam Manajemen Bencana Indonesia Kemana?. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sudibyakto. (2011)b. Mengelola Risiko Bencana. dalam Manajemen Bencana Indonesia Kemana?. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sudradjat, A., Syafei, I., dan Paripurno, E.T. (2010). The Characteristics of Lahar in Merapi Volcano, Central Java as the Indicator of the Explosive during Holocene. Jurnal Geologi Indonesia 6 (2): 69-74.

Sutikno., Widiyanto., Santosa, L.W. dan Purwanto, T.H. (2007). Kerajaan Merapi, Sumberdaya Alam dan Daya Dukungnya. Yogyakarta: BPFG.


 


 



DOI: https://doi.org/10.22146/mgi.29129

Article Metrics

Abstract views : 1595 | views : 2174

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2018 Majalah Geografi Indonesia

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


 

Accredited Journal, Based on Decree of the Minister of Research, Technology and Higher Education, Republic of Indonesia Number 30e/KPT/2018

Volume 31 No 2 the Year 2017 for Volume 35 No 2 the Year 2021

ISSN  0215-1790 (print) ISSN 2540-945X  (online)

 

website statistics Statistik MGI