Kajian Fisik Pesisir Kulon Progo untuk Penentuan Zona Kawasan Mangrove dan Tambak Udang

https://doi.org/10.22146/mgi.26320

Riski Tanjung(1*), Nurul Khakhim(2), Rustadi Rustadi(3)

(1) 
(2) Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
(3) Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
(*) Corresponding Author

Abstract


Abstrak

Pesisir Kulon Progo saat ini memiliki habitat mangrove dan lahan tambak udang. Perkembangan salah satunya, akan mengakibatkan berkurangnya luas lahan yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis kondisi fisik wilayah pesisir Kulon Progo, (2) menentukan zona yang sesuai untuk kawasan mangrove dan/atau tambak udang di wilayah pesisir Kulon Progo, dan (3) menyusun rekomendasi pengelolaan kawasan mangrove dan atau tambak udang di wilayah pesisir Kulon Progo. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling. Data kondisi fisik lahan diperoleh melalui observasi dan pengukuran di lapangan. Zonasi kawasan mangrove dan tambak udang dilakukan dengan reinterpretasi peta dan metode matching dengan parameter kesesuaian yang telah ditentukan sebelumnya. Strategi pengelolaan kawasan mangrove dan tambak udang dilakukan dengan menganalisis faktor internal dan eksternal wilayah menggunakan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi fisik wilayah pesisir Kulon Progo terdiri atas substrat dasar berbatu, lempung bergeluh, lempung, lempung berpasir, berpasir. Pasang surut air laut berkisar 1-1,1m, salinitas air antara 0-29‰, kecerahan air antara 0 cm - tidak terukur, dan suhu air  antara 27-34,1 °C. Kondisi fisik pesisir Kulon Progo ada yang sesuai (S2) untuk pertumbuhan mangrove dan tambak udang, serta ada yang tidak sesuai untuk keduanya. Zona yang sesuai (S2) untuk kawasan mangrove terdapat di muara Sungai Bogowonto seluas 1,58ha. Zona yang sesuai (S2) untuk kawasan tambak udang seluas 134,49ha. Strategi pengelolaan kawasan untuk zonasi mangrove di lokasi kajian yang dapat direkomendasikan dalam penelitian ini antara lain (1) pelestarian dan pengembangan kawasan mangrove dalam bentuk kawasan konservasi sekaligus sebagai objek wisata dan pendidikan, (2) mengembangkan dan meningkatkan komitmen masyarakat atas arti penting kawasan mangrove untuk menghambat alih fungsi kawasan mangrove, (3) mengembangkan zona mangrove dengan menanam jenis mangrove yang sesuai dengan kondisi fisik lahan, (4) melakukan tindakan persuasif dalam mewujudkan konsensus masyarakat untuk membentuk kawasan lindung mangrov

Abstract

The Coast of Kulon Progo is currently the habitats for mangroves and shrimp ponds, i.e., where the development of the former reduces the latter. This research aimed to (1) analyze the physical condition of the coast, (2) determine the suitable zone for mangrove areas and/or shrimp ponds along the coast, and (3) propose a recommendation for mangrove and/or shrimp pond management along the coast. The samples were selected using purposive sampling technique. The research also employed field observation and measurement to acquire the physical condition of the land. The zonation of mangrove area and shrimp pond was obtained from map reinterpretation and matching technique with the predefined parameters of land suitability. As for the mangrove and shrimp pond management strategies, the research used SWOT analysis to study both of the internal and external factors in the study area. The results showed that the substrate of the coast was composed of rock, clay loam, clay, sandy clay, and sand. Aside from the substrate, the physical condition of the coast was characterized by sea tide (1-1.1 m), salinity (0-29%), water transparency (0 cm-undetectable), and temperature (27-34.1°C). These characteristics classified the coast into two types of suitability for mangrove growth and shrimp pond development, namely suitable (S2) and unsuitable. While the suitable (S2) zone for mangrove development occupied 1.58 ha area in the mouth of Bogowonto River, the suitable (S2) zone for shrimp pond was considerably larger, i.e., 134.49 ha. The recommended strategies for mangrove zone management in the study area are as follows: (1) mangrove preservation and development as a conservation area and an object for tourist destination and education, (2) the encouragement and improvement of community’s commitment to accentuating the essential functions of mangrove areas and to decelerating any land use conversions of mangrove zone, (3) the development of mangrove zone by planting suitable mangrove species with the physical condition of the area,  and (4) the implementation of persuasive actions in actualizing community consensus on mangrove area development.





Keywords


kondisi fisik; zonasi; mangrove; tambak udang; wilayah pesisir Kulon Progo

Full Text:

PDF


References

Ahmad, T. (1998). Budidaya Bandeng Secara Intensif. Jakarta: PT. Penebar Swadaya.

Arksonkae, S. (1993). Ecology and Management of Mangroves. Bangkok, Thailand: IUCN.

Badan Pusat Statistik. (2012). Kabupaten Kulon Progo Dalam Angka 2012. Wates: BPS Kabupaten Kulon Progo.

BAPPEDA Kabupaten Kulon Progo. (1987). Potensi Perikanan Pantai Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 1986/1987. Laporan Penelitian. Yogyakarta: BAPPEDA Kabupaten Kulon Progo  dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan serta Jurusan Perikanan Universitas Gadjah Mada.

Dinas Hidro–oseanografi. (2011). Daftar Pasang Surut Kepulauan Indonesia (Tides Table, Indonesian Archipelagos). Stasiun Pengamatan Pantai Cilacap Tahun 2011. Jakarta: Dinas Hidro-Oseanografi (DHO TNI AL).

Dinas Hidro–oseanografi. (2012). Daftar Pasang Surut Kepulauan Indonesia (Tides Table, Indonesian Archipelagos). Stasiun Pengamatan Pantai Cilacap Tahun 2012. Jakarta: Dinas Hidro-Oseanografi (DHO TNI AL).

Djohan, T.S. (2000). Prospek Pengembangan Mangrove di Pantai Selatan Yogyakarta. Makalah dalam Workshop Regional Mangrove : Rehabilitasi Hutan Mangrove Melalui Pemberdayaan Masyarakat Dalam Rangka Otonomi Daerah. Yogyakarta: Pusat Pengembangan Rehabilitasi Mangrove INSTIPER.

Djohan, T.S. (2007). Distribusi Hutan Bakau di Laguna Pantai Selatan Yogyakarta. Jurnal Manusia dan Lingkungan, 14(1), 15 - 25.

Effendi, H. (2003). Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

FAO. (1994). Mangrove Forest Management Guidelines. Roma: United Nation.

Faturrohmah, S. & Marjuki, B. (2017). Identifikasi Dinamika Spasial Sumberdaya Mangrive di Wilayah Pesisir Kabupaten Demak. Majalah Geografi Indonesia, 31(1), 56 – 64.

Giesen, W., Wulffraat, S., Zieren, M. & Scholten, L. (2007). Mangrove Guidebook for Southeast Asia. Bangkok: Dharmasarn Co., Ltd.

Hidayatullah, T. (2013). Evaluasi Ekonomi Kawasan Tambak dan Mangrove Pasca Bencana Lumpur di Muara Sungai Porong Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur. Majalah Geografi Indonesia, 28(2), 169 – 177.

Hudaya, Y.F., Hartono & Murti, S.H. (2014). Pendugaan Potensi Cadangan Karbon Hutan di Atas Permukaan pada Ekosistem Mangrove Berbasis Synthetic Aperture Radar L-Band. Majalah Geografi Indonesia, 28(2), 188 – 199.

Imburi, C.S., Danoedoro, P., & Murti, S.H. (2015). Pemetaan Hutan Mangrove di Estuari Sungai Andai, Menokwari Papua Barat Berdasarkan Metode Density Slicing Berbasis Citra ALOS AVNIR-2. Majalah Geografi Indonesia, 29(1), 19 – 30.

Koordi, G. (2012). Jurus Jitu Pengelolaan Tambak Untuk Budidaya Perikanan Ekonomis. Yogyakarta: Lily Publisher.

Kusmana, C., Wilarso, S., Hilwan, I., Pamoengkas, P., & Wibowo C. (2003). Teknik Rehabilitasi Mangrove. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Macnae, N. 1968. A General Accountu of The Fauna and Flora of Mangrove Swamp and Forest in The Indo-West Pasific Region. Adu. Mar. Bio., 6,  73-270.

Nurrohmah, E., Sunarto & Khakhim, N. (2016). Pemilihan Lokasi Kawasan Konservasi Mangrove dengan Pendekatan SIG Partisipatif di Wilayah Pantai Kabupaten Demak. Majalah Geografi Indonesia, 30(2), 149 – 168.

Peraturan Daerah DIY No. 16 tahun (2011) tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2011-2030.

Priyono, S.B. (2004). Pemanfaatan Foto Udara dan Sistem Informasi Geografi untuk Perencanaan Pengembangan Tambak Biocrete (Kasus di Pantai Selatan Kabupaten Bantul). Tesis. Yogyakarta: Program Pasca Sarjana, Universitas Gadjah Mada.

Purnomo. (1992). Pemilihan Lokasi Tambak Udang Berwawasan Lingkungan. Seri Pengembangan Hasil Penelitian No. PHP/KAN/PATEK/004/1992.

Sawitri, R. (2012). Strategi Pengelolaan Lingkungan pada Ekosistem Mangrove di Sekitar Muara sungai Bogowonto Kabupaten Kulon Progo. Tesis. Yogyakarta: Sekolah Pascasarjana, Program Studi Ilmu Lingkungan, Konsentrasi Magister Pengelolaan Lingkungan, Universitas Gadjah Mada. 

Seller & Markland, H.R. (1987). Decaying Lake The Origin and Control of Cultural Eutrophication Principles and Technique in the Environmental Sciences. New York: John Wiley and Sons. Ltd.

Sunarto. (1994). Pelestarian Morfologi Pantai Akibat Pertambakan di Muara Ngebum Kabupaten Kendal. Laporan Penelitian. Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.

Supriharyono. (2000). Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Triatmodjo, B. (2008). Teknik Pantai, Cetakan ke-5. Yogyakarta: Betta Offset.

Triyatmo. (2010). Management Practices of Shrimp Farming in Sandy Coastal Areas: A Case Study in Bantul, Indonesia. The International Seminar on Development of Coastal Sandy Area Towards Sustainable Agriculture. Yogyakarta-Indonesia, Februari 2010.

Tseng, W.Y., & Ho,  S.K. (1988). The Biology and Culture of Red Grouper. Koaksing: Chien Cheng Publisher.

Undang-undang No. 27 Tahun (2007) tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Undang-undang No. 1 Tahun (2014) tentang Perubahan UU No. 27 Tahun 2007 Rencana Tata Ruang Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Widiyanto. (1986). Geomorfologi Daerah Glagah-Bogowonto Propinsi Jawa Tengah-DIY. Laporan Penelitian. Yogyakarta: Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada.

Wilopo, M.D. (2005). Karakter Fisik Oseanografi di Perairan Barat Sumatera dan Selatan Jawa-Sumbawa Dari Satelit Multi Sensor. Bogor: Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Zuidam. R.A. (1983). Guide to Geomorfhology Ariel Photographic Interpretation and Mapping. Enschede, The Nederland:  ITC.  

 



DOI: https://doi.org/10.22146/mgi.26320

Article Metrics

Abstract views : 2945 | views : 4060

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2017 Majalah Geografi Indonesia

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


 

Accredited Journal, Based on Decree of the Minister of Research, Technology and Higher Education, Republic of Indonesia Number 30e/KPT/2018

Volume 31 No 2 the Year 2017 for Volume 35 No 2 the Year 2021

ISSN  0215-1790 (print) ISSN 2540-945X  (online)

 

website statistics Statistik MGI