Kajian Degradasi Lahan Sebagai Dasar Pengendalian Banjir di DAS Juwana

https://doi.org/10.22146/mgi.15633

Arina Miardini(1*), Totok Gunawan(2), Sigit Heru Murti(3)

(1) 
(2) Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada
(3) Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada
(*) Corresponding Author

Abstract


Adanya pemanfaatan lahan yang intensif dan ekspolitatif dapat menurunkan daya dukung dan fungsi lingkungan DAS yang menyebabkan lahan menjadi terdegradasi. Tingginya luasan lahan kritis menjadi ancaman terhadap daya dukung DAS yang akan berdampak pada ketidakseimbangan hidrologi dalam DAS. Salah satu akibat ketidakseimbangan hidrologi dalam DAS adalah terjadinya banjir. DAS Juwana merupakan DAS Prioritas I berdasarkan penetapan 108 DAS prioritas. Salah satu indikator untuk menentukan degradasi dalam DAS dapat diketahui berdasarkan nilai koefisien aliran. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik fisik DAS yang berpengaruh dalam penentuan koefisien aliran, menghitung koefisien aliran dengan mempertimbangkan parameter karakteristik fisik DAS dan memberikan rekomendasi pengelolaan banjir di DAS Juwana yang potensial banjir dalam mendukung upaya pengelolaan DAS dari hulu sampai hilir. Koefisien aliran dihitung denggan menggunakan metode cook yang memperhitungkan parameter kemiringan lereng, infiltrasi tanah, tutupan vegetasi dan simpanan permukaan. Perumusan pengendalian banjir dilakukan dengan melakukan penatagunaan lahan yang disesuaikan dengan arahan fungsi penggunaan lahan sehingga diharapkan menurunkan nilai koefisien aliran dan debit banjir. Karakteristik fisik DAS Juwana yang mempengaruhi penentuan koefisien aliran berdasarkan metode Cook yaitu Kemiringan lereng dengan rata-rata skor C sebesar 0,178, kerapatan aliran dengan rata-rata skor 0,084, infiltrasi dengan rata-rata skor 0,115 dan tutupan vegetasi dengan rata-rata skor 0,127. Kontribusi masing masing parameter dalam penilaian koefisien aliran yang memiliki pengaruh paling terbesar sampai paling terkecil dalam besarnya koefisien aliran yaitu kemiringan lereng yang memiliki pengaruh sebesar 35,39%, kemudian tutupan vegetasi sebesar 25,25%, infiltrasi sebesar 22,86% dan terakhir adalah kerapatan aliran yang berkontribusi sebesar 16,70%. Nilai koefisien aliran di DAS Juwana sebesar 50,25% yang termasuk kriteria tinggi. Daerah yang menjadi prioritas penanganan dalam pengendalian banjir terdapat pada satuan lahan yang memiliki nilai koefisien aliran tinggi sampai ekstrim seluas 48042,46 ha atau sebesar 36,84% dari luas DAS Juwana. Dalam upaya mengendalikan banjir dirumuskan beberapa pengelolaan yaitu penatagunaan lahan merestorasi, reklamasi dan konservasi penggunaan lahan sesuai dengan arahan fungsi penggunaan lahan sehingga dapat dikendalikannya aliran permukaan (surface run-off) karena berfungsinya tutupan vegetasi pada setiap penggunaan lahan disertai dengan pengelolaan lahan yang berbasis konservasi tanah dan air serta melalui pendekatan kolaboratif dengan memperhatikan potensi dan sensitivitas sumberdaya dalam DAS dan pesisir sehingga diperoleh pengelolaan yang terpadu.


Keywords


banjir; DAS Juwana; degradasi lahan; Metode Cook



References

Ananda, J dan Proctor, W. (2012). Analysis Collaborative approaches to water management and planning: An institutional perspective. Journal Ecological Economics. 86, 97–106. Asdak, C. (2004). Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Cetakan ketiga. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. BPDAS Pemali Jratun. (2011). Rencana Pengelolaan DAS Terpadu Wilayah DAS Juana. Dirjen BPDASPS. Kementerian Kehutanan Gunawan, T. (1991). Penerapan Tekhnik Penginderaan Jauh untuk Menduga Debit Puncak menggunakan Karakteristik Lingkungan Fisik DAS. Studi Kasus di Daerah aliran Sungai Bengawan Solo Hulu. Disertasi. Bogor : Fakultas Pascasarjana, Institut pertanian Bogor. Meijerink, A. M. J. (1970) Photo Interpretation in Hydrology A Geomorphological Approach. ITC. Delf. Paimin, Purwanto, D. dan R, Indrawati. (2012). Sistem Perencanaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Bogor : Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi (P3KR). Seyhan, E. (1977). Fundamentals of Hydrology, (terjemahan) Subagyo. 1993. Dasar-Dasar Hidrologi. Cetakan kedua. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Singh, S. & A., Mishra. (2012). Spatiotemporal analysis of the effects of forest covers on water yield in the Western Ghats of peninsular India. Journal of Hydrology. 446–447, 24–34. Sinukaban, N. (2007). Peranan Konservasi Tanah dan Air dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Bunga Rampai Konservasi Tanah dan Air 2004-2007. Jakarta : Masyarakat Konservasi Tanah dan Air. Perundang-undangan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167. Jakarta : Sekretariat Negara. Keputusan Menteri Kehutanan No. SK. 328/Menhut-II/2009 Tentang Penetapan Daerah Aliran Sungai (DAS) Prioritas dalam Rangka Rencana Pengembangan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2010-2014. Jakarta : Kementrian Kehutanan.



DOI: https://doi.org/10.22146/mgi.15633

Article Metrics

Abstract views : 1845 | views : 1111

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2016 Majalah Geografi Indonesia

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


 

Accredited Journal, Based on Decree of the Minister of Research, Technology and Higher Education, Republic of Indonesia Number 30e/KPT/2018

Volume 31 No 2 the Year 2017 for Volume 35 No 2 the Year 2021

ISSN  0215-1790 (print) ISSN 2540-945X  (online)

 

website statistics Statistik MGI