Penurunan Budidaya Tanaman Mendong (Heleocharis Chaetaris Boeck.L) sebagai Bahan Baku Kerajinan Tangan di Padukuhan Parakan Kulon dan Plembon Desa Sendangsari, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Yogyakarta

https://doi.org/10.22146/mgi.15623

Julianti Marbun(1*), Sudarmadji Sudarmadji(2), Slamet Suprayogi(3)

(1) Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada
(2) Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada
(3) Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada
(*) Corresponding Author

Abstract


Berkembangnya desa dimulai dari prinsip-prinsip kearifan lokal yang ada. Salah satu contoh di Desa Sendangsari, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman dalam pemanfaatan dan pengolahan tanaman mendong. Tanaman mendong yang telah dibudidayakan, di Padukuhan Parakan Kulon, dan Padukuhan Plembon mengalami penurunan, berkurangnya tanaman mendong yang dijadikan bahan baku Handicraft berdampak kepada keberlanjutan dari petani dan pengrajin mending. Penelitian ini menggunakan metode survei, dengan pendekatan analisis spasial dan temporal. Pengambilan sampel tanah dilakukan pada lahan budidaya mendong, untuk mengetahui kesesuaian syarat tumbuh tanaman mendong dan dianalisis dengan menggunakan Weight Factor Matching. Responden yang diambil untuk mendapatkan informasi dilakukan dengan pendekatan Indepth Interview. Pendekatan analisis spasial dan temporal dalam mengevaluasi penurunan budidaya mendong pada tahun 2009 dan 2014 dilakukan, untuk mendapatkan faktor dominan dalam penurunan budidaya mending. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Kesesuaian syarat tumbuh tanaman mendong di Padukuhan Parakan Kulon, dan Padukuhan Plembon, Desa Sendangsari dalam Weight Factor Matching termasuk cukup sesuai (S2) dengan persentase 64,37 %. Sebagian lahan budidaya mendong yang ada tergolong dalam kategori sesuai marginal (S3), dan kategori tidak sesuai (N) yang dipengaruhi oleh faktor pembatas kadar air yang kurang di dalam tanah untuk syarat tumbuh mendong. (2) Faktor penurunan tanaman mendong terletak pada biaya produksi yang tinggi tidak sebanding dengan nilai penjualan dari kerajinan anyaman mendong, anyaman mendong yang mudah terserang jamur, dan aspek pemasaran yang terbatas menjadi faktor kendala dalam pembudidayaan mendong berkelanjutan. (3) Distribusi budidaya tanaman mendong terhadap luasan sebaran tanaman mendong mengalami penurunan.  Pada tahun 2009 lahan budidaya tanaman mendong sebesar 4o Ha, mengalami penurunan pada tahun 2014 dengan luas lahan budidaya 9 Ha. Tingkat pemasaran yang menurun memerlukan pendekatan strategi pemasaran dalam pengembangan wilayah perdesaan

Keywords


kerajinan tangan; penurunan budidaya mending



References

Fandeli, C. (2001). Perencanaan Kepariwisataan Alam. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Muta’ali, L. (2011). Daya Dukung Lingkungan untuk Perencanaan Pengembangan Wilayah Perdesaan. Yogyakarta: Badan Penerbit Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. Muta’ali, L. (2013). Pengembangan Wilayah Perdesaan (Perspektif Keruangan). Yogyakarta: Badan Penerbit Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada. SOP Pelatihan Penyuluhan Lapangan Perkebunan. (2009). Kesesuaian dan Syarat Tumbuh Tanaman Mendong Kecamatan Minggir. Yogyakarta: Perhutani Sleman. Utami, S. (2010). Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Melalui Pengembangan Ekonomi Mikro. Jurnal Pembangunan Masyarakat dan Desa. Universitas Indonesia. 11(1).



DOI: https://doi.org/10.22146/mgi.15623

Article Metrics

Abstract views : 936 | views : 510

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2016 Majalah Geografi Indonesia

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


 

Accredited Journal, Based on Decree of the Minister of Research, Technology and Higher Education, Republic of Indonesia Number 30e/KPT/2018

Volume 31 No 2 the Year 2017 for Volume 35 No 2 the Year 2021

ISSN  0215-1790 (print) ISSN 2540-945X  (online)

 

website statistics Statistik MGI