Analisis Geomorfologi Untuk Rekonstruksi Tata Ruang Kuno Di Wilayah Pantai Karst Krakal, Gunungkidul

https://doi.org/10.22146/mgi.12755

Sunarto Sunarto(1*)

(1) Fakultas Geografi UGM
(*) Corresponding Author

Abstract


Ditinjau dari kondisi fisik wilayah Pantai Krakal yang datar, terdapat sumber air tawar, dan bemiaterial aluvium; maka meskipun wilayah pantai ini sekarang berupa lahan tegal, namun pada masa lampau dimungkinkan sekali menjadi lahan hunian. Jika Pantai Krakal dahulunya merupakan lahan hunian, maka yang menarik untuk diteliti adalah bagaimana tata ruang kuno di wilayah Pantai Krakal tersebut. Oleh sebab itu, tujuan penelitian ini merekonstrukri tata ruang kuno di wilayah Pantai Krakal berdasarkan analis geomorfologi. Cara penelitian ini dilakukan dengan tiga tahapan, yaitu tahap kerja pralapangan,tahap kerja lapangan, dan tahap pascalapangan. Pada tahap pralapangan dilakukan studi pustaka dan pengumpulan data sekunder. Pada tahap kerja lapangan dilakukan orienrasi lapangan, Penentuan lokasi sampel secara purposif, ekskavasi untuk memperoleh penampang tegak tanah, sehingga diperoleh data stratigrafi, penyidikan sifot­ sifal tanah, pengamatan material penyusun, pengamatan penggunaan lahan, pengamatan sumber air tawar, dan pembuatan sketsa penampang geomorfologi. Pada tahap pascalapangan dilakukan analis data secara induktif-eksplanasi dengan berdasar pada konsep sebab-akibat dan merekonstruksi bentuklahan dalam kaitannya dengan penggunaan lahan kuno, sehingga diperoleh tata ruang kuno. Hasil yang diperoleh menunjukan, bahwa di wilayah Pantai Krakal terdapat empat satuan bentuklahan dengan persebaran dari selatan ke utara adalah pelataran pantai, beting gisik, dataran aluvial karst, dan kerucut karst sinoid. Berdasarkan karakteristik masing-masing saluan bentuklahan itu dapal diketahui tata ruang dan
pemanfaatan lahan kuno di wilayah Pantai Krakal. Pemukiman terletak di kaki kerucut karst sinoid, terutama : yang di dekatnya di jumpai sumber air tawar. Perladangan terdapat di dataran aluvial pantai karst, karena pada unit ini telah terbentuk tanah Mediteran dari material endapan Terra Rossa. Kegiatan nelayan dari penduduk masa lampau terletak di pelataran pantai dan beting    gesik, karena lokasinya di dekat garis pantai. Pekuburan terlerak di beting gesik karena materialnya masih lepas-lepas, sehingga mudah digali untuk penguburan.


Full Text:

PDF


References

Birowo, S, dan H. Uktolseya, 1980, The Coastal and Estuarine Waters of the Cilacap, Proceedings of the Workshop on Coastal Resources, Management in the Cilacap Region. The Indonesian Institute of ScienceS and The United Nations University1 Jakarta.

Kelompok Geohidrologi Karst, 1980 Geohidrologi Karst di Gunung Sewu, Gunung Kidul, ]awa Tengah, !nstitut Teknologi Bandung, Bandung.

MacDonald &Partners, l984a, Greater Yorta: Growulwater Resource.s Siudy, VoL 2, Hydro!· ogy, PZAT, Yogyakata.

MacDonald & Partners, 1984b, Greater Yol[)'akarta: Groundwa

Suparman, A, 1995, ''Tapchan" • Teknologi Pembangkit Llstrik Tenaga Gelombang Laut di Pantai Baron. DIY, Prosiding Seminar Kela-ur.an Nasianal • 1995, Penerbit Panitia Pengem· bangan Riset dan teknologi Kelautan serta Ind ustri Maritim, BPPT, Jakarta.

Tjia, H.D., 1969, Slope Development in Tropical Karst, Annals Grommpholol[)' , Stuttgart, Vol.133, h.260·Z66.



DOI: https://doi.org/10.22146/mgi.12755

Article Metrics

Abstract views : 808 | views : 747

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2016 Majalah Geografi Indonesia

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


 

Accredited Journal, Based on Decree of the Minister of Research, Technology and Higher Education, Republic of Indonesia Number 30e/KPT/2018

Volume 31 No 2 the Year 2017 for Volume 35 No 2 the Year 2021

ISSN  0215-1790 (print) ISSN 2540-945X  (online)

 

website statistics Statistik MGI