Prevalensi Bakteri Extended-Spectrum Beta-Lactamase dan Evaluasi Kesesuaian Antibiotik Definitif pada Pasien Rawat Inap Di RSUP Dr Soeradji Tirtonegoro Klaten

https://doi.org/10.22146/farmaseutik.v17i2.48199

Yessy Resi Maharani(1), Nunung Yuniarti(2), Ika Puspitasari(3*)

(1) Magister Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada
(2) Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada
(3) Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada
(*) Corresponding Author

Abstract


Extended-Spectrum Beta-Lactamase (ESBL) saat ini masih menjadi permasalahan kesehatan yang perlu diperhatikan karena prevalensinya cenderung meningkat berakibat pada tingginya morbiditas dan mortalitas. Secara epidemiologi, penyebaran ESBL di berbagai negara dunia berbeda-beda. Di Indonesia prevalensi infeksi oleh bakteri penghasil ESBL mencapai 65%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi bakteri ESBL, evaluasi kesesuaian antibiotik definitif beserta prediksi nilai parameter farmakokinetiknya yang dihubungkan dengan luaran klinis pasien dengan infeksi suspek ESBL yang menjalani rawat inap di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten tahun 2018. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional cross sectional retrospektive. Data prevalensi bakteri ESBL dan hasail evaluasi kesesuaian antibiotik dianalisis secara deskriptif sedangkan nilai prediksi parameter farmakokinetik dihubungkan dengan luaran klinis pasien dianalisis secara Chi-Square. Hasil prevalensi bakteri ESBL didapat adalah 63 dari 373 isolat (16,9%). Bakteri terbanyak penghasil ESBL adalah Klebsiella pneumonia yaitu sebesar 157 isolat (42,1%) dan Escherichia coli sebesar 117 isolat (31,4%). Terdapat 11 antibiotik definitif yang memenuhi keseluruhan kesesuaian jenis, dosis, frekuensi dan durasi penggunaan antibiotiknya (78,6%). Hasil nilai prediksi farmakokinetik kadar antibiotik definitif dalam darah dari 11 antibiotik definitif dibandingkan dengan MIC diperoleh hasil Css  MIC sebanyak 3 antibiotik (27,3%) dan Css < MIC sebanyak 8 antibiotik (72,7%). Hubungan prediksi kadar antibiotik definitif terhadap luaran klinis pasien suspek ESBL dalam penelitian ini belum dapat diketahui karena jumlah data yang masih sangat sedikit sehingga tidak dapat dianalisis secara Chi-square.


Keywords


antibiotik definitif; Extended-Spectrum Beta-Lactamase (ESBL); evaluasi kesesuaian; luaran klinis dan farmakokinetik

Full Text:

PDF


References

Brooks, G.F., 2007. Jawetz, Melnick, & Adelberg’s Medical Microbiology. McGraw-Hill Medical, New York. Fong dan Drlica, 2008. Antimicrobial Resistance & Implications for the Twenty-First Century. Springer Science Bussines Media, LLC. Hakim, L, 2012. Farmakokinetik Klinik : Konsep Untuk Rasionalisasi Regimen Dosis, Therapeutic Drug Monitoring, Konseling Pasien dan Pengembangan Obat. PT. Bursa Ilmu, Yogyakarta. Mims, C., Dockrell HM, Goering RV, Roitt I, dan Wakelin D, 2008.Medical Microbiology, 3rd ed. England: Mosby UK. Shaikh, S., Fatima, J., Shakil, S., Rizvi, S.M.D., dan Kamal, M.A., 2015. Antibiotic Resistance and Extended Spectrum Beta-lactamases: Types, Epidemiology and Treatment. Saudi Journal of Biological Sciences, 22: 90–101. Sharma, J., Meera, S., dan Palap, R., 2009. Detection of TEM and SHV in Escherichia Coli and Klabisella Pneumonia Isolates in a Tertiary Care Hospital from India. Indian Journal Med Res, 132: 332–336.



DOI: https://doi.org/10.22146/farmaseutik.v17i2.48199

Article Metrics

Abstract views : 301 | views : 306

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Majalah Farmaseutik Indexed by:

   
 
 
Creative Commons License