Kekuatan Cerita dalam Bisnis Sosial

https://doi.org/10.22146/studipemudaugm.39643

Lisa Lindawati(1*)

(1) Universitas Gadjah Mada
(*) Corresponding Author

Abstract


Dalam dua puluh tahun terakhir, social enterpeneur atau social enterprise banyak diperbincangkan. Konsep ini berkembang hampir di seluruh dunia, baik negara maju maupun negara berkembang. Sebagai sebuah diskursus maupun praktik, bisnis sosial memang bukan hal baru. Namun, penulis berpendapat bahwa di era revolusi industri 4.0 adalah momentum yang sangat tepat bagi berkembangnya social entrepreneurship. Dengan metode kualitatif deskriptif, penulis ingin menunjukkan bahwa perkembangan media digital melahirkan ekosistem yang menguntungkan para sociopreneur muda, setidaknya dengan dua cara. Pertama, media digital mendorong berkembangnya sharing economy yang selaras dengan nilai-nilai yang diyakini oleh para sociopreneur. Hal ini berkaitan erat dengan munculnya berbagai inovasi disruptif yang meruntuhkan nilai-nilai lama. Konsep sharing economy menjadi populer sehingga memangkas biaya produksi maupun distribusi. Bagi bisnis konvensional, konsep ini sekaligus memangkas keuntungan mereka. Namun, bagi bisnis sosial, efisiensi bermakna positif karena bukan keuntungan tujuannya. Dengan kata lain, media digital membuat logika bisnis sosial menjadi kelaziman yang mudah diterima. Kedua, kehadiran media digital mendorong berkembangnya storytelling marketing. Jika bisnis komersial harus menggali ceritanya, bisnis sosial selalu hadir membawa cerita. Cerita bahkan menjadi ruh dari sebuah bisnis sosial. Tanpa cerita, maka bisnis sosial tidaklah berbeda dengan bisnis komersial pada umumnya. Cerita menghadirkan inspirasi dan menegaskan misi sosial, sekaligus mengajak orang lain untuk bergerak bersama. Sehingga, sudah selayaknya seorang sociopreneur menjadi seorang storyteller.


Keywords


social entrepreneur; storytelling marketing; disruptive innovation

Full Text:

PDF


References

Badan Pusat Statistik 2018. “Persentase Penduduk Miskin Maret 2018 Turun Menjadi 9.82 persen”. Jakarta: Badan Pusat Statistik. Dipetik 10 Oktober, 2018  (https://www.bps.go.id/pressrelease/2018/07/16/1483/persentase-penduduk-miskinmaret-2018-turun-menjadi-9-82-persen.html).

Badan Pusat Statistik 2018. “Gini Ratio Tercatat Sebesar 0.389”. Jakarta: Badan Pusat Statistik. Dipetik 10 Oktober, 2018 (https://www.bps.go.id/pressrelease/2018/07/16/1533/gini-ratio maret-2018-tercatat-sebesar-0-389.html).

BBC 2018. Empat Hal di Balik Angka Kemiskinan Indonesia yang disebut Mencatat 'sejarah. Jakarta: BBC. Dipetik 10 Oktober, 2018 (https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-44861258).

Bloem, J. 2014. The Fourth Industrial Revolution: Things to Tighten the Link Between IT and OT. Gronigen: SOGETI VINT.

Borgaza, C., & Defourny, J. 2001. The Emergence of Social Enterprise. London: Routledge.

Christensen, C. (t.thn.). “Key Concepts”. Harvard: Clayton Christensen. Dipetik 19 Februari 19, 2018 (http://www.claytonchristensen.com/key-concepts/).

Choiri, E. O. 2018. Tokoh Social Enterpeneur Asia yang Bisa Anda Jadikan PanutanJurnal. Dipetik 10 Oktober, 2018 (https://www.jurnal.id/id/blog/2018/5-tokoh-social-entrepreneur-asia-yang bisa-anda-jadikan-panutan).

DBS. 2015. “Beranis Jadi Wirausaha Sosial”. Jakarta: DBS. Dipetik 10 Oktober, 2018 (https://www.dbs.com/iwov-resources/pdf/indonesia/social-good/Berani-jadi-SE24Jun2015-final.pdf).

Fransisca, G. 2014. Rhenald Kasali: Indonesia Butuh Banyak Sociopreneur. Jakarta: Kontan. Dipetik 10 Oktober, 2018 (https://nasional.kontan.co.id/news/rhenald-kasaliindonesia-butuh-banyaksociopreneur).

Ginanjar, D 2017. Kisah Bos Kitabisa Sukses Bangun Kotak Amal Zaman Now. Jakarta: Jawa Pos. Dipetik 10 Oktober, 2018 (https://www.jawapos.com/ekonomi/28/10/2017/kisah-bos kitabisa-sukses-bangun-kotak-amal-zaman-now).

Kasali, R. 2017. Disruption. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kuwado, F. J. 2018. Jumlah Enterpeneur di Indonesia Jauh Di bawah Negara Maju. Jakarta: Kompas.com. Dipetik Oktober 10, 2018              (https://nasional.kompas.com/read/2018/04/05/17261391/jumlah-entrepreneur-diindonesia-jauh-di-bawah-negara-maju-ini-kata-jokowi).

Movanita, A. N. 2018. Kuartal II 2018 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,27 Persen. Jakarta: Kompas.com. Dipetik Oktober 10, 2018              (https://ekonomi.kompas.com/read/2018/08/06/125338926/kuartal-ii-2018-pertumbuhan ekonomi-indonesia-527-persen).

Roundy, P. T. 2010. “Doing Good by Telling Stories: Emotion in Social Enterpreneurship  Communication”. Journal of Small Bussiness Strategy Volume 24 No 2.

The Insider, 2018. “6 Ways Brands Can Boost Their Storytelling”. Digital Marketing Institute. Dipetik 10 Oktober, 2018 (https://digitalmarketinginstitute.com/the-insider/20-09-17-6-waysbrands-can-boost-their-storytelling).

Walfajri, M. 2018. Menkop UKM: Rasio Wirausaha Indonesia Sudah Lebih dari 7 persen. Jakarta: Kontan. Dipetik 10 Oktober, 2018 (https://peluangusaha.kontan.co.id/news/menkop-ukmrasio-wirausaha-indonesia-sudah-lebih-dari-7)



DOI: https://doi.org/10.22146/studipemudaugm.39643

Article Metrics

Abstract views : 783 | views : 1571

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Jurnal Studi Pemuda

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

 


  Jurnal Studi Pemuda (Print ISSN 2252-9020; Online ISSN 2527-3639)  is published by the Youth Studies Centre in collaboration with Faculty of Social and Political Science, Universitas Gadjah Mada.  

 

View My Stats