GEDRUKAN, REGENG, DAN PEMICU SEMANGAT GERAK: MAKNA PEMAKAIAN KELINTHING DALAM PERTUNJUKAN TOPENG IRENG

https://doi.org/10.22146/jksks.47755

Kiswanto Kiswanto(1*), Bambang Sunarto(2)

(1) Institut Seni Indonesia Surakarta
(2) Institut Seni Indonesia Surakarta
(*) Corresponding Author

Abstract


The discussion of art is closely related to the issue of symbols and meanings  that has become the foundation on artistic buildings. This also clarifies the existence of art as one of the elements of the embodiment of culture in a society, such as the use of kelinthing in the Topeng Ireng performances. This paper uncovers and explains the forms of artistic expression symbols of the kelinthing and conception of the artist interpret as an element of the Topeng Ireng performances that developed and spread widely in Magelang and surrounding area. Ethnographic approach supported theories related, such as culture, philosophy, and aesthetics into a rationale as outlined by the scientific method in this paper. In this paper shows that the forms of artistic expression symbols of the kelinthing has various meanings associated with intrinsic value (form) and extrinsic value (content). The intrinsic value of kelinthing closely related to dance and music TopengIreng, while the extrinsic value of kelinthing closely related to sound in the show are interpreted regeng. In addition, kelinthing also be interpreted as a stimulus to the spirit of the motion of dancers.

 

Abstrak

Pembahasan seni terkait erat dengan persoalan simbol dan muatan makna yang telah menjadi pondasi pada bangunan artistiknya. Hal ini sekaligus memperjelas keberadaan seni sebagai salah satu unsur perwujudan kebudayaan dalam suatu masyarakat, seperti pemakaian kelinthing dalam pertunjukan Topeng Ireng. Tulisan ini mengungkap dan menjelaskan bentuk simbol ungkap artistik kelinthing dan konsepsi seniman dalam memaknainya sebagai unsur pertunjukan Topeng Ireng yang berkembang dan tersebar secara luas di wilayah Magelang dan sekitarnya. Pendeketan etnografi dengan didukung teori-teori terkait, seperti kebudayaan, filsafat, dan estetika menjadi landasan pemikiran yang dituangkan dengan metode ilmiah dalam tulisan ini.  Pada tulisan ini menunjukkan bahwa bentuk simbol ungkap artistik kelinthing memiliki makna yang berhubungan dengan nilai intrinsik (bentuk) dan nilai ekstrinsik (isi). Nilai intrinsik kelinthing berkaitan erat dengan gerak tari dan musik Topeng Ireng, sedangkan nilai ekstrinsik kelinthing berkaitan erat dengan bunyinya dalam pertunjukan yang dimaknai regeng. Di samping itu, kelinthing juga dimaknai sebagai pemicu semangat gerak penari.


Keywords


kelinthing, gedrukan, regeng, pemicu semangat



References

Cassirer, Ernst. Manusia dan Kebudayaan; Sebuah Esei Tentang Manusia. Terj. Alois A. Nugroho. Jakarta: PT Gramedia, 1990. Djohan. Psikologi Musik. Yogyakarta: Penerbit Best Publisher, 2009. Doubler, Margareth N.H. “Tari; Sebuah Pengalaman Seni yang Kreatif”, judul asli: Dance: a Creative Art Experience. Terj: Dewi Nurnani. Medison: The University of Winconcin Press, 1959. Geertz, Clifford. The Interpretation of Cultures; Selected Essays. New York: Basic Books, Inc., Puhlishers, 1973. . Tafsir Kebudayaan. Terj. Francisco B. Hardiman. Yogyakarta: Penerbit Kanisius (Anggota IKAPI), 1992. Ihalauw, John J.O.I. Bangunan Teori. Salatiga: Satya Wacana University Press, 2004. Kusumohamidjojo, Budiono. Filsafat Kebudayaan; Proses Realisasi Manusia. Yogyakarta: Jalasutra, 2009. Kumalasari, Atik Dwi Yanti. “Pertumbuhan Tari Topeng Hitam Cipto Kawedar Dusun Ngaran Dua, Desa Borobudor, Kecamatan Borobudor, Kabupaten Magelang”. Skripsi S1 Program Studi Seni Tari Jurusan Tari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta, 1998. Mulyana, Aton Rustandi. “Rame: Estetika Kompleksitas dalam Upacara Ngarot di Lelea Indramayu, Jawa Barat”. Disertasi S3 Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2013. Nisvi, Wahyu Laelatul. “Tari Dayakan Kelompok Satria Rimba; Suatu Kajian Hermeneutika H.G. Gadamer”. Skripsi S1 Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Surakarta, 2012. Saragih, Horasdia. “Fisika Kesehatan” dalam https://sites.google.com/site/horasdiasite/mata-kuliah/fisika-kesehatan Simatupang, Lono. Pergelaran; Sebuah Mozailk Penelitian Seni-Budaya. Yogyakarta: Jalasutra, 2013. Sulistiorini, Kristiani. “Perkembangan Topeng Hitam di Dusun Tuk Songo 1, Desa Tuk Songo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang; Kontinuitas dan Perubahan”. Skripsi S1 Program Studi Seni Tari Jurusan Tari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta, 2006. Sumaryanto. “Seni Pertunjukan Topeng Ireng; Fungsi dan Tantangannya. Kasus Masyarakat Bojong, Mendut, Mungkid, Magelang 1988-2002”. Skripsi S1 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, 2008. Sumardjo, Jakob. Filsafat Seni. Bandung: Penerbit ITB, 2000. Widyawati, Setya, Dwi Maryani, Rasita Satriana, dan Joko Rianto. “Tinjauan Kehidupan Kesenian Tradisional di Kecamatan Mertoyudan dan Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang”. Laporan penelitian dibiayai DIK Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta, 1998.



DOI: https://doi.org/10.22146/jksks.47755

Article Metrics

Abstract views : 2738 | views : 280

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 Jurnal Kajian Seni

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

This journal is published by Performing Arts and Visual Arts Studies, Graduate School, Universitas Gadjah Mada.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

web
statistics View My Stats