Perbandingan Kualitas Hidup Pasien Endometriosis Pascaoperasi sebelum Dan Sesudah Pemberian Terapi Hormonal

https://doi.org/10.22146/jkr.75116

Dian Novitasari(1*), Agung Dewanto(2), Ahsanudin Attamimi(3)

(1) Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran, Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
(2) Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran, Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
(3) 
(*) Corresponding Author

Abstract


Latar belakang: Endometriosis merupakan penyakit yang ditandai adanya jaringan endometrium di luar cavum uterus, yang menimbulkan reaksi peradangan kronis. Gejala endometriosis paling sering adalah nyeri pelvis dan infertilitas. Endometriosis berpengaruh terhadap kualitas hidup penderitanya, terutama karena rasa nyeri yang ditimbulkannya, bisa menghambat dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Kombinasi dari terapi operatif dan medikamentosa efektif untuk menurunkan rekurensi, mengurangi nyeri dan meningkatkan fertilitas pada pasien dengan endometriosis

Tujuan: Membandingkan kualitas hidup dan skor nyeri pasien pasca operasi endometriosis sebelum dan sesudah pemberian terapi hormonal

Metode: Kualitas hidup pada pasien endometriosis yang telah menjalani laparoskopi ataupun laparotomi dievaluasi dengan metode kohort prospektif menggunakan kuesioner Endometriosis Health Profile-30 (EHP-30). Kuesioner diberikan sebelum terapi hormonal dan diulang lagi setelah selesai terapi hormonal. Analisis dilakukan dengan membandingkan nilai masing-masing domain dari kuesioner inti dan kuesioner moduler sebelum dan sesudah terapi hormonal.

Hasil: Total responden adalah 73 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Terapi hormonal pada pasien endometriosis dapat memperbaiki kualitas hidup secara keseluruhan dengan rerata skor 29,89 (SD ± 17,80) menjadi 16,5 (SD ± 16,7) (p <0,001) sebelum mendapatkan terapi hormonal. Terdapat perbaikan pada semua domain kuesioner inti, dengan nilai yang bermakna secara statistik pada domain nyeri dengan rerata 41,73 (SD ± 27,08) menjadi 13,70 (SD ± 22,39) (p <0,001), domain kendali & ketidakberdayaan; rerata 34.21 (SD ± 25,63) menjadi 16,66 (SD ± 19,58) (p <0,001), domain kesehatan emosional rerata 29,84 (SD ± 21,18) menjadi 19,11 (SD ± 19,22) (p <0,001); dan domain dukungan sosial rerata 26,97 (SD ± 20,70) menjadi 20,30 (SD ± 22,37) (p=0,006), sedangkan pada domain citra diri tidak terdapat perbaikan secara signifikan. Pada kuesioner modular terdapat perbaikan signifikan pada domain pekerjaan dengan rerata 30,37 (SD ± 24,99) menjadi 13,57 (SD ± 18,62) p <0,001, domain hubungan dengan anak rerata 13,82 (SD ± 20,13) menjadi 9,58 (SD ± 17,08) dan nilai p=0,017; dan domain perasaan terhadap infertilitas rerata 45,96 (SD ± 29,80) menjadi 36,67 (SD ± 29,77) p=0,001, sedangkan pada domain hubungan seksual, hubungan dengan tenaga kesehatan dan perasaan terhadap terapi tidak terdapat perubahan yang signifikan.

Kesimpulan: Kualitas hidup setelah pemberian terapi hormonal lebih baik bila dibandingkan sebelum pemberian terapi hormonal pada pasien endometriosis pascaoperasi

Keywords


endometriosis; terapi hormonal; kualitas hidup; endometriosis health profile-30, EHP-30

Full Text:

PDF


References

  1. ESHRE Endometriosis Guideline Development Group. Management of women with endometriosis Guideline of the European Society of Human Reproduction and Embryology. Eur. Soc. Hum. Reprod. Embryol. 1–97 (2013) doi:10.1093/humrep/det457.2.
  2. Kashi, A. M. et al. Application of the world health organization quality of life instrument, short form (WHOQOL- BREF) to patients with endometriosis. Obstet. Gynecol. Sci. 61, 598–604 (2018).
  3. Supriyadi, A. et al. Konsensus Tatalaksana Nyeri Endometriosis. Himpun. Endokrinol. Reproduksi dan Fertil. Indones. (2017).
  4. Nezhat, C., Vang, N., Tanaka, P. P. & Nezhat, C. Optimal Management of Endometriosis and Pain. Obstet. Gynecol. 134, 834–839 (2019).
  5. Khong, S. Y., Lam, A. & Luscombe, G. Is the 30-item Endometriosis Health Profile (EHP-30) suitable as a self- report health status instrument for clinical trials? Fertil. Steril. 94, 1928– 1932 (2010).
  6. Techatraisak, K. et al. Effectiveness of dienogest in improving quality of life in Asian women with endometriosis (ENVISIOeN): Interim results from a prospective cohort study under real-life clinical practice. BMC Womens. Health 19, 1–12 (2019).
  7. Chaman-Ara K, Bahrami M, Moosazadeh M & Bahrami E. Quality of life in women with endometriosis: a systematic review and meta-analysis. Wcrj 4, 1–17 (2017).
  8. Fonseca, M. de F., Aragao, L. C., Sessa,F. V., de Resende, J. A. D. & Crispi, C.P. Interrelationships among endometriosis-related pain symptoms and their effects on health-related quality of life: A sectional observational study. Obstet. Gynecol. Sci. 61, 605–614 (2018).
  9. Rush, G., Misajon, R., Hunter, J. A., Gardner, J. & O’Brien, K. S. The relationship between endometriosis- related pelvic pain and symptom frequency, and subjective wellbeing. Health Qual. Life Outcomes 17, 1–5 (2019).



DOI: https://doi.org/10.22146/jkr.75116

Article Metrics

Abstract views : 504 | views : 368

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2022 The Author(s)

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Jurnal Kesehatan Reproduksi Indexed by:

 

 



SEKRETARIAT JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI
Departemen Obstetri dan Ginekologi, FK-KMK, UGM/RS Dr. Sardjito
Jl. Kesehatan No. 1, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Tlp: (0274) 511329 / Faks: (0274) 544003
Email: jurnal.kesehatanreproduksi@ugm.ac.id
Cp: Dwi Astuti +6281802698043