Hubungan Kadar β-hCG 12 Hari Pasca Transfer Embryo dengan Luaran Kehamilan

https://doi.org/10.22146/jkr.53479

Agung Kurniawan(1*), Shofwal Widad(2), Diah Rumekti Hadiati(3)

(1) Departemen Obstetri dan Ginekologi, FK-KMK,UGM
(2) Departemen Obstetri dan Ginekologi, FK-KMK,UGM
(3) Departemen Obstetri dan Ginekologi, FK-KMK,UGM
(*) Corresponding Author

Abstract


Latar Belakang: Subfertilitas merupakan salah satu permasalahan yang sering ditemukan di era modern ini. Berbagai metode ditemukan dan digunakan untuk meningkatkan angka keberhasilan reproduksi pada perempuan. Teknologi reproduksi berbantu memiliki risiko terjadinya keguguran dan kehamilan ektopik. Kadar serum β-hCG 12 hari pasca transfer embryo memiliki peranan penting dalam prediksi luaran kehamilan.

Tujuan: Untuk memprediksi luaran kehamilan, sensitivitas, spesifisitas serta nilai ambang kadar β-hCG 12 hari pasca transfer embryo.

Metode: Penelitian menggunakan  rancangan penelitian observasional kohort retrospektif di Klinik Permata Hati RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2012 – 2015. Subyek penelitian 130 subyek yang terbagi menjadi 65 subyek dengan kadar β-hCG  <76 IU/l dan 65 subyek ≥76 IU/l. Luaran kehamilan diklasifikasikan sebagai viabel (janin hidup pada usia kehamilan ≥ 22 minggu) dan non viabel ( kehamilan biokimia, ektopik, mola dan keguguran).

Hasil dan Pembahasan: Median dan minimum kadar β-hCG pada kehamilan viabel 167 IU/l dan 44 IU/l,  dan 53 IU/l dan 16 IU/l pada kehamilan non viabel. Terdapat hubungan yang bermakna antara kadar serum β-hCG 12 hari pasca transfer embryo dengan luaran kehamilan. Kadar  β-hCG  ≥76 IU/l sebanyak 50 (76,9%) pada kehamilan viabel  dan sebanyak 15 (23,1%) subyek pada kehamilan non viabel.  Kadar β-hCG <76 IU/l sebanyak 7 (10,8%) pada kehamilan viabel dan 58 (89,2%) pada kehamilan non viabel (p=0,000). Kadar β-hCG terendah pada kehamilan ganda 300 IU/l.

Kesimpulan: Kadar β-hCG 12 hari pasca transfer embryo bermakna secara statistik dalam membantu memprediksi luaran kehamilan viabel dengan cut-off point 71,5 IU/l, sensitivitas 89,1 % dan spesifitas 79,5 %. Nilai positive predictive value (PPV) adalah 76,9 %, dan nilai negative predictive value (NPV) adalah  89,2%.

Kata kunci: Teknologi reproduksi berbantu, subfertilitas, kadar β-hCG, transfer embryo, luaran kehamilan.

 


Keywords


Teknologi reproduksi berbantu; subfertilitas; kadar β-hCG; transfer embryo; luaran kehamilan

Full Text:

PDF


References

  1. Fritz MA, Speroff L. Clinical gynecologic endocrinology and infertility. 2011. Wolters Kluwer Health/Lippincott Williams & Wilkins; 2011. 1439 p.
  2. Karlikaya G, Lacin S, Kahraman S, Hospital IM, Centre G. 2006. Article Serum oestradiol and p-HCG measurements after day 3 or 5 embryo transfers in interpreting pregnancy outcome. 2006;13(4).
  3. Macklon NS, Stouffer RL, Giudice LC, Fauser BCJM. 2006. The science behind 25 years of ovarian stimulation for in vitro fertilization. Endocr Rev [Internet]. 2006 Apr [cited 2016 Jun 12];27(2):170–207.Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16434510
  4. Singh N, Goyal M, Malhotra N, Tiwari A, Badiger S. 2013. Predictive value of early serum beta-human chorionic gonadotrophin for the successful outcome in women undergoing in vitro fertilization. J Hum Reprod Sci [Internet]. 2013 Oct [cited 2016 Jun 12];6(4):245–7.Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24672163
  5. Klonoff-Cohen H, Chu E, Natarajan L, Sieber W. 2001. A prospective study of stress among women undergoing in vitro fertilization or gamete intrafallopian transfer. Fertil Steril [Internet]. 2001 Oct [cited 2016 Jun 12];76(4):675–87. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11591398
  6. Roche Diagnostics. Cobas E 411 电化学发光全自动免疫分析系统. 2015;1–5. Available from: http://www.roche-diagnostics.cn/products/Pages/cobase411.aspx
  7. Papageorgiou TC, Leondires MP, Miller BT, Chang AS, Armstrong AB, Scott LA, et al. 2001. Human chorionic gonadotropin levels after blastocyst transfer are highly predictive of pregnancy outcome. Fertil Steril [Internet]. 2001 Nov [cited 2016 Jun 12];76(5):981–7.Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11704121
  8. Ashrafi M, Sadatmahalleh SJ, Akhoond MR, Ghaffari F, Zolfaghari Z. 2013. ICSI outcome in infertile couples with different causes of infertility: A cross-sectional study. Int J Fertil Steril. 2013;7(2):88–95.
  9. Dubuisson JB, Aubriot FX, Mathieu L, Foulot H, Mandelbrot L, de Joliere JB, et al. 1991. Risk factors for ectopic pregnancy in 556 pregnancies after in vitro fertilization: Implications for preventive management. Fertil Steril [Internet]. 1991;56(4):686–90.
  10. Roque M, Lattes K, Serra S, Sol I, Geber S, Carreras R, et al. 2013. Fresh embryo transfer versus frozen embryo transfer in in vitro fertilization cycles: A systematic review and meta-analysis. Fertil Steril. 2013;99(1):156–62.
  11. Evans J, Hannan NJ, Edgell TA, Vollenhoven BJ, Lutjen PJ, Osianlis T, et al. 2014. Fresh versus frozen embryo transfer: Backing clinical decisions with scientific and clinical evidence. Hum Reprod Update. 2014;20(6):808–21.
  12. Poikkeus P, Hiilesmaa V, Tiitinen A. 2016. Serum HCG 12 days after embryo transfer in predicting pregnancy outcome. Hum Reprod [Internet]. 2002 Jul 1 [cited 2016 Jun 12];17(7):1901–5. Available from: http://humrep.oxfordjournals.org/lookup/doi/10.1093/humrep/17.7.1901



DOI: https://doi.org/10.22146/jkr.53479

Article Metrics

Abstract views : 211 | views : 138

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 The Author(s)

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Jurnal Kesehatan Reproduksi Indexed by:

 



SEKRETARIAT JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI
Departemen Obstetri dan Ginekologi, FK-KMK, UGM/RS Dr. Sardjito
Jl. Kesehatan No. 1, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Tlp: (0274) 511329 / Faks: (0274) 544003
Email: jurnal.kesehatanreproduksi@ugm.ac.id
Cp: Dwi Astuti +6281802698043