Zona Ekowisata Kawasan Konservasi Pesisir di Kecamatan Katingan Kuala, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah Melalui Pendekatan Ekologi Bentang Lahan

https://doi.org/10.22146/jik.12628

Cakra Birawa(1), Raden Mas Sukarna(2*)

(1) Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya Jl. H. Timang Palangka Raya Kalimantan Tengah 73111
(2) Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya Jl. H. Timang Palangka Raya Kalimantan Tengah 73111
(*) Corresponding Author

Abstract


Wilayah laut dan pesisir beserta sumberdaya alamnya memiliki pengaruh strategis terhadap pengembangan ekonomi Indonesia karena dapat diandalkan sebagai salah satu pilar ekonomi nasional. Pemanfatan dan pengelolaan kawasan pesisir yang dilakukan oleh masyarakat maupun pemerintah daerah belum mencerminkan aspek-aspek kelestarian dan keberkelanjutan. Untuk mendukung hal tersebut, perlu dikembangkan zona ekowisata yang mampu meningkatkan ekonomi masyarakat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari zona ekowisata kawasan konservasi pesisir di Kecamatan Katingan Kuala Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah melalui pendekatan ekologi bentang lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari seluruh luas wilayah Kecamatan Katingan Kuala (1.440 km2) dapat dikategorikan dalam empat sub zona, yaitu zona ekowisata ± 15,83 %, zona penyangga ± 31,30 %, zona inti untuk konservasi dan rehabilitasi ± 29,55 %, dan zona produksi dan ekonomi ± 23,31 %. Disimpulkan bahwa kegiatan pengembangan ekowisata di wilayah pesisir ini harus serasi dan selaras dengan upaya konservasi, perlindungan, dan pelestarian lingkungan hidup secara menyeluruh.

Kata kunci:  zonasi ekowisata, ekologi bentang lahan, konservasi pesisir, pembangunan keberlanjutan, Katingan Kuala.

 

Ecoutourism Zone of Coastal Conservation Area through Landscape Ecology Approach in Katingan Kuala Sub-regency, Katingan Regency, Central Kalimantan Province 

Abstract

Marine and coastal areas as well as their natural resources have strategic effects towards the economic development of Indonesia because they are reliable to be one of the pillars of the national economy. Utilization and management of coastal areas either conducted by the community or local government have not reflect the conservation and sustainable aspects. To support these conditions, it is necessary to develop ecotourism zone, which is able to improve the local economies. This research aimed to study ecotourism zone of the coastal conservation area in Katingan Kuala Sub-district, Central Kalimantan Province through landscape ecology approach. The results showed that the total area of Katingan Kuala Sub-district, which is1,440 km2, could be categorized into four sub-zones, i.e. ecotourism zone is ±15.83 %, buffer zone is ± 31.30 %, core zone for conservation and rehabilitation is ± 29.55 %, and production and economic zone is ± 23.31 %. It was concluded that ecotourism development in these coastal areas should be in harmony with the conservation, protection, and preservation of the environment as a whole.



Keywords


ecotourism zonation; landscape ecology; coastal conservation; sustainable development; Katingan Kuala

Full Text:

PDF


References

  1. Bengen DG. 2001. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut. Cetakan Kedua. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
  2. BPS Kabupaten Katingan. 2013. Katingan dalam Angka Tahun 2013.
  3. BPS Kabupaten Kotawaringin Timur. 2006. Kecamatan Katingan Kuala dalam Angka 2006. Kerjasama Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kotawaringin Timur dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Katingan Tahun 2006.
  4. Dahuri R, Rais J, Ginting SP, & Sitepu MJ. 1996. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu.Pradya Paramita. Jakarta.
  5. Darmawijaya MI.1997. Klasifikasi Tanah Dasar. Teori bagi Peneliti Tanah dan Pelaksana Pertanian di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
  6. FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations), 2007. The world’s mangroves 1980-2005. FAO Forestry Report 153. Rome.
  7. Farina A. 1998. Principles and Methods in Landscape Ecology. Chapman & Hall. London.
  8. Forman RT & Gordon M. 1986. Landscape Ecology. John Wiley and Son. New York.
  9. Giri C & Muhlhausen J. 2008. Mangrove forest distributions and dynamics in Madagascar (1975–2005). Sensors 8, 2104-2117.
  10. Kathiresan K. 2012. Importance of mangrove ecosystem. International Journal of Marine Science 2 (10), 70-89. 
  11. Mackinnon K, Hatta G, Halim H, & Mangalik A. 2000. The Ecology of Kalimantan.Terjemahan. Prenhallindo, Jakarta.
  12. Mihoubi MK, Belkessa R & Latreche MA. 2014. Study of the vulnerability of coastal areas of the Algerian Basin with the GIS. International Journal of Environmental Science and Development 5(6), 522-526.
  13. Murdiyarso D, Donato D, Kauffman JB, Kurnianto S, Stidham M, & Kanninen M. 2009. Carbon Storage in Mangrove and Peatland Ecosystems: A Preliminary Account from Plots in Indonesia. Working paper 48, Center for International Forestry Research (CIFOR) Bogor, Indonesia. 35.
  14. Nybakken JW. 1989. Marine Biology: An Ecological Approach. Harper and Row Publisher, New York.
  15. Pemerintah Daerah Propinsi Kalimantan Tengah, 2003. Rencana Strategis Pengelolaan Laut Propinsi Kalimantan Tengah Tahun 2003-2005. Palangka Raya.
  16. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil di Indonesia.
  17. Priono Y. 2012. Pengembangan kawasan ekowisata Bukit Tangkiling berbasis masyarakat. Jurnal Perspektif Arsitektur 7 (1), 51-67.
  18. Putra W. 2014. Kawasan ekowisata hutan mangrove di Desa Kuala Karang Kabupaten Kubu Raya. Jurnal Arsitektur Universitas Tanjung Pura 2(2), 41-55.
  19. Sukarna RM & Syahid Y. 2015. FCD application of landsat for monitoring mangrove in Central Kalimantan. Indonesian Journal of Geography 47 (2), 160-170.
  20. Suparno 2009. Zonasi wilayah pesisir dan pulau pulau kecil sebagai salah satu dokumen penting untuk disusun Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota. Jurnal Mangrove dan Pesisir 11(1), 1-8.
  21. Undang Undang Pemerintah Republik Indonesia No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil. Kementerian Hukum dan HAM, Jakarta.
  22. Vink APA. 1983. Landscape Ecology and Land Use. Longman Inc. New York.
  23. Young RH, Green DR, & Cousins S. 1993. Landscape Ecology and Geographic Information System. Taylor and Francis, London.
  24. Zonneveld IS. 2001. Landscape Ecology Applied in Land Evaluation, Development and Conservation. International Institute for Aerospace Survey and Earth Sciences ITC.

 



DOI: https://doi.org/10.22146/jik.12628

Article Metrics

Abstract views : 2420 | views : 4893

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2016 Jurnal Ilmu Kehutanan




© Redaksi Jurnal Ilmu Kehutanan
Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada
Jl. Agro No 1, Bulaksumur, Sleman 55281
Telp. (0274) 512102, 550541, 6491420
Fax. (0274) 550541 E-mail : jik@ugm.ac.id
website : jurnal.ugm.ac.id/jikfkt/

 

Indexed by :

 

Jurnal Ilmu Kehutanan/Journal Forest Science is under the license of Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International

Creative Commons License

View My Stats