Cover Image

Jan Zalasiewicz: “Masalahnya bukan terlalu sedikit bukti, melainkan terlalu banyak"

https://doi.org/10.22146/balairung.v1i1.34990

Bernard Evan Kanigara(1*), Sanya Dinda(2), Jan Zalasiewicz(3)

(1) Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada
(2) Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada
(3) School of Geography, University of Leicester University Road, Leicester LE1 7RH, UK
(*) Corresponding Author

Abstract


Pada tahun 2000, Paul Crutzen dan Eugene Stormer menyatakan bahwa dalam skala waktu geologi, Bumi sudah tidak berada dalam epos Holosen, tetapi Antroposen. Penamaan tersebut didasarkan pada pengamatan pengaruh manusia terhadap perubahan Bumi. Aktivitas manusia, pada mulanya, mengubah bumi secara perlahan-lahan. Namun, kini perubahan bumi terjadi secara cepat dan besar, terutama pasca Perang Dunia II. Para ilmuwan menamakan peristiwa tersebut The Great Acceleration. Peristiwa ini ditandai terjadinya peningkatan drastis Produk Domestik Bruto di seluruh dunia. Hal tersebut juga mendorong peningkatan populasi manusia dan kaum urban. Tingkat konsumsi berbagai macam hal, seperti air, pupuk, kertas, alat transportasi, alat komunikasi, turut meningkat. Peningkatan- peningkatan tersebut mengakibatkan konsentrasi CO2, N2O, dan NH4 meningkat, lapisan ozon menipis, serta suhu global Bumi naik. Selain itu, hilangnya beberapa hutan mengakibatkan banyak hewan punah dan frekuensi banjir meningkat. Berdasarkan artikel “Hutan Indonesia Makin Botak” (2017) di situs Tirto, secara global Indonesia menempati posisi kelima negara-negara dengan kehilangan tutupan pohon terbesar. Kehilangan tutupan pohon (tree cover loss) adalah hilangnya tutupan pohon di berbagai lanskap, seperti wilayah hutan hujan tropis hingga area perkebunan. Masih dilansir dari situs yang sama, sejak 2001 hingga 2014, Global Forest Watch mencatat Indonesia telah kehilangan 18,91 juta hektare hutan. Di sisi lain, Rusia yang menempati posisi teratas, kehilangan 42,13 juta hektare hutan, disusul oleh Brazil yang kehilangan 38,77 juta hektare. Tujuh belas tahun setelah pertama kali istilah Antroposen dicetuskan, istilah tersebut semakin terkenal dan digunakan oleh akademisi. Namun, sebagai skala waktu geologi, istilah Antroposen belum resmi digunakan sebagaimana Holosen. Kelompok ilmuwan yang tergabung dalam Anthropocene Working Group (AWG) sedang berupaya untuk meresmikan istilah Antroposen dalam skala waktu geologi. Berdasarkan artikel “Geologists search for Anthropocene ‘golden spike’” (2016) di situs BBC, usaha peresmian Antroposen dilakukan dengan pencarian golden spike, sebuah penanda pergantian skala waktu geologi yang ditemukan dalam lapisan bebatuan Bumi.


Full Text:

PDF



DOI: https://doi.org/10.22146/balairung.v1i1.34990

Article Metrics

Abstract views : 936 | views : 7285

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.


Diterbitkan oleh BPPM Balairung, Universitas Gadjah Mada
Kompleks Perumahan Dosen UGM, Bulaksumur B-21, Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta 55281.
email: balairungpress@gmail.com | LINE: @GSJ9240C | http://balairungpress.com
    
2018 BPPM BALAIRUNG UGM