Journal of Geospatial Science and Technology
https://jurnal.ugm.ac.id/v3/jgst
<p>Journal of Geospatial Sciences and Technology (JGST) is a national and international peer-reviewed journal published by Department of Earth Technology Vocational College, Universitas Gadjah Mada biannually in July and December and covers all aspects and information on scientific and technical advances in geospatial sciences and technology. Journal of Geospatial Sciences and Technology publishes high quality, peer-reviewed scientific papers, unique contributions in geospatial application ranging from the integration of instruments, methodologies and technologies and their application in the earth sciences, engineering, and other natural sciences. We expect the author who submitted in our journal to certify that the paper is original, has not been published before, and is not being considered for publication elsewhere.</p> <p><a href="https://portal.issn.org/resource/ISSN/3031-576X" target="_blank" rel="noopener"><strong>ISSN 3031-576X</strong></a></p>Universitas Gadjah Madaen-USJournal of Geospatial Science and Technology3031-576XPerbandingan Hasil Perhitungan Volume Menggunakan Fotogrametri Sudut Tegak dan Sudut Miring (Studi Kasus: Dome Nikel PT Weda Bay Nickel)
https://jurnal.ugm.ac.id/v3/jgst/article/view/24025
<p>PT Weda Bay Nickel (WBN) merupakan salah satu perusahaan pertambangan nikel yang melakukan pemantauan produksi dengan menghitung volume tumpukan material (<em>dome</em>). PT WBN menggunakan fotogrametri sudut tegak yang dinilai efisien untuk banyak <em>dome</em>, sedangkan perusahaan mitra menggunakan metode terestrial GNSS karena keterbatasan alat. Nilai volume dari setiap perusahaan dievaluasi nilai densitasnya dengan <em>Interval Densitas Material</em> (IDM) untuk menentukan data volume yang digunakan dalam catatan <em>stock opname</em>. Jika densitas dari PT WBN lebih mendekati IDM, maka volume dari PT WBN digunakan dan sebaliknya. Akibatnya terjadi masalah inkonsistensi data volume yang digunakan dalam catatan stock opname. Kajian ini membandingkan dan menguji salah satu metode alternatif untuk meminimalisir permasalahan tersebut, yaitu fotogrametri metode sudut miring, yang andal dalam akuisisi data objek kompleks. Kegiatan ini berlokasi di tempat penyimpanan material tambang nikel, yaitu Permanent Ore Stationary (POS) 12 PT WBN, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, Indonesia. Objek yang digunakan adalah dome nikel sebanyak 5 buah. Metode yang digunakan untuk akuisisi fotogrametri yaitu metode sudut tegak dan fotogrametri sudut miring 45° , 60°, dan 75° dengan menggunakan mode Post Processing Kinematik (PPK), serta menggunakan metode terestrial dengan GNSS sebagai pembanding. Kajian ini juga membahas mengenai uji akurasi horizontal dan vertikal, uji volume serta uji densitas. Berdasarkan hasil perhitungan RMSE volume dan RMSE densitas pada lima buah dome, metode sudut 75° menunjukkan nilai terkecil yaitu secara berurutan 461,836 m3 dan 0,080 ton/m3. Menunjukkan keakuratan dan kedekatan terhadap data terestrialnya, sementara itu nilai RMSE volume dan RMSE densitas terbesar berada pada sudut 60° dengan nilai berurutan yaitu 597,217 m3 dan 0,121 ton/m3. Hal ini memperkuat fakta bahwa data citra sudut miring mampu meningkatkan ketepatan model 3D, baik dari segi volume maupun segi kepadatan materialnya serta dapat direkomendasikan untuk meminimalisir terjadinya inkonsistensi perhitungan volume dome nikel.</p>Ahmad Husni Haris Ramadhan
Copyright (c) 2026 Journal of Geospatial Science and Technology
2026-07-312026-07-314111110.22146/jgst.v4i1.24025Identifikasi Perubahan Morfologi Kubah Lava Gunung Merapi Menggunakan DEM dari Foto Udara Tahun 2024-2025
https://jurnal.ugm.ac.id/v3/jgst/article/view/27905
<p>Mount Merapi, located on the border of Central Java Province and the Special Region of Yogyakarta, is one of the most active volcanoes in Indonesia, characterized by repeated growth and reduction of lava domes. Morphological changes in the lava domes, particularly the central and southwest domes, play a crucial role in the generation of lava collapses and pyroclastic density currents that pose serious threats to surrounding settlements. Therefore, continuous monitoring of lava dome morphology, volume changes, and extrusion rates is essential for volcanic hazard assessment and mitigation. This study aims to map the morphological changes of Mount Merapi’s lava domes in both 2D and 3D, calculate volume variations, and analyze lava extrusion rates during the period from March 2024 to April 2025.</p> <p>The study utilized aerial photographs acquired by Unmanned Aerial Vehicles (UAVs) operated by the Center for Geological Disaster Technology Research and Development (BPPTKG). The aerial images were processed using Agisoft Metashape to generate orthophotos, Digital Elevation Models (DEMs), and tiled 3D models. Geometric accuracy was assessed based on the Regulation of the Head of the Geospatial Information Agency No. 18 of 2021. Volume changes were calculated using the cut and fill method, while extrusion rates were derived from volume differences between observation periods. The resulting 3D models were visualized through web-based scenes using ArcGIS Online, allowing interactive online access.</p> <p>The results indicate that the central lava dome experienced unstable changes, with two periods of volume reduction followed by a renewed growth phase. In contrast, the southwest lava dome exhibited significantly larger volume changes and higher extrusion rates, particularly between July 2024 and April 2025. These findings suggest that the southwest lava dome was the most active dome during the observation period and played a dominant role in controlling the morphological dynamics of Mount Merapi.</p>Jefry Ryan Yanuar ChoiriRochmad MuryamtoAndika Bayu Aji
Copyright (c) 2026 Journal of Geospatial Science and Technology
2026-07-312026-07-3141122110.22146/jgst.v4i1.27905A Geographic Information System Mobile Application for Road Traffic Crash Data Collection, Management and Analysis
https://jurnal.ugm.ac.id/v3/jgst/article/view/29579
<p class="Keywords" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"><span lang="EN-GB" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;">The study addressed the issue of road traffic crashes in developing countries like Nigeria by developing a mobile app called Geographic Information System-Road Traffic Crash Data (GIS-RTCD)<span style="background: white;">. The app developed and tested in Southwest Nigeria is designed to transform the collection and management of real-time road traffic crash data by replacing the traditional paper-based method known for its imprecise, missing, contradictory, and disparate data. The app, accessible on Android and iPhone platforms, uses an Epicollect5-implemented mobile user interface, web server, PostgreSQL-based database, Apache Tomcat/Geoserver application/GIS server, and OpenLayers-implemented web service for map data visualization. The app provides precise crash location determination through GPS/geospatial mapping, digitally structures data collection, prevents data duplication, and eliminates labour-intensive tasks associated with manual data processing. The study recommends replacing manual crash data recording systems in Nigeria with the GIS-RTCD app to standardize crash data records and enhance comprehensive data collection for national analysis and research.</span></span></p>Jude Ubaka OdinfonoManuel NdebeleAdekunle Oluseyi AfolabiMoses Olaniran Olawole
Copyright (c) 2026 Journal of Geospatial Science and Technology
2026-07-312026-07-3141223410.22146/jgst.v4i1.29579Pengaruh Jumlah dan Distribusi Ground Control Point (GCP) terhadap Tingkat Akurasi Pengukuran Volume Metode Fotogrametri pada Pekerjaan Uji Petik Overburden (Studi Kasus: PT Putra Perkasa Abadi, Jobsite PT Bukit Asam, Tbk.)
https://jurnal.ugm.ac.id/v3/jgst/article/view/24160
<p>Penggunaan metode fotogrametri berbasis Unmanned Aerial Vehicle (UAV) semakin luas diterapkan dalam pengukuran volume overburden di industri pertambangan. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi akurasi hasil pengukuran adalah jumlah serta distribusi <em>Ground Control Point</em> (GCP) pada proses triangulasi udara. Penelitian ini dilaksanakan di PT Putra Perkasa Abadi <em>Jobsite</em> PT Bukit Asam, Tbk., dengan enam variasi jumlah GCP (0, 1, 2, 4, 5, dan 6 titik) serta pengujian distribusi merata dan tidak merata pada konfigurasi 2 GCP, dengan menggunakan tujuh <em>Independent Check Point</em> (ICP) pada setiap pemrosesan datanya. Data diolah menggunakan metode SFM-MVS <em>Photogrammetry</em>, sedangkan perhitungan volume dilakukan dengan metode <em>Cut and Fill</em> berdasarkan batas area dari hasil pengukuran GNSS RTK sebagai acuan permukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konfigurasi 6 GCP menghasilkan akurasi terbaik dengan selisih volume 3,76%, serta ketelitian geometrik CE90 0,0344 m dan LE90 0,0510 m. Namun, penggunaan minimal 4 GCP dengan distribusi merata telah memenuhi standar Badan Informasi Geospasial (BIG, 2021) dengan selisih volume 6,31%. Sebaliknya, konfigurasi tanpa GCP menghasilkan selisih volume terbesar (8.571,45%) dengan CE90 6,1055 m. Selain jumlah, distribusi GCP juga memengaruhi akurasi, pada 2 GCP, distribusi merata menurunkan selisih volume hingga 6,83% dibanding 316,70% pada distribusi tidak merata. Oleh karena itu, direkomendasikan penggunaan minimal 4 GCP dengan distribusi merata untuk memperoleh akurasi volume <em>overburden</em> yang lebih baik menggunakan metode fotogrametri UAV, sehingga menghasilkan pengukuran yang akurat dan efektif.</p>Laurensia Ayu AnggraeniRuli Andaru
Copyright (c) 2026 Journal of Geospatial Science and Technology
2026-07-312026-07-3141355010.22146/jgst.v4i1.24160Evaluasi Ketelitian Perhitungan Volume Uji Petik Overburden Berdasarkan Variasi Tinggi Terbang pada Foto Udara Menggunakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV)
https://jurnal.ugm.ac.id/v3/jgst/article/view/23993
<p>Uji petik merupakan kegiatan pengukuran volume sampel tumpukan overburden sebagai monitoring dan kontrol manajemen produksi perusahaan. PT Putra Perkasa Abadi Jobsite PT Bukit Asam Tbk melakukan uji petik menggunakan GNSS metode Real Time Kinematic (RTK). Akan tetapi, pengukuran menggunakan alat ini cenderung kurang efisien secara waktu sehingga diperlukan metode alternatif. Metode fotogrametri menggunakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dapat melakukan akuisisi data secara cepat, serta menghasilkan resolusi spasial tinggi dengan biaya terjangkau. Salah satu parameter yang ditentukan dalam perencanaan pengukuran adalah tinggi terbang. Tinggi terbang mempengaruhi kualitas foto udara yang akan berpengaruh pada volume yang dihasilkan. Tujuan proyek akhir ini untuk membandingkan hasil volume UAV dengan GNSS metode RTK, serta menentukan tinggi terbang optimal dalam pengukuran volume uji petik overburden.<br>Akuisisi data dilakukan dengan tiga variasi tinggi terbang, yaitu 30 meter, 40 meter, dan 50 meter. Pengukuran GCP dan ICP menggunakan metode RTK dengan jumlah titik GCP sebanyak lima buah dan ICP sebanyak enam buah. Foto udara diolah menggunakan Agisoft Metashape, kemudian point cloud diekspor ke Surpac untuk dihitung volumenya. Hasil perhitungan volume dianalisis melalui uji t untuk mengetahui signifikansi perbedaan antar tinggi terbang dan kedua metode pengukuran. <br>Hasil perhitungan volume tinggi terbang 30 meter sebesar 340,92 m3 dengan waktu akuisisi data foto udara selama 4 menit, tinggi terbang 40 meter sebesar 340,68 m3 dengan waktu pengambilan data 2 menit dan 351,83 m3 untuk tinggi terbang 50 meter dengan waktu pemotretan selama 1 menit. Uji statistik t antar tinggi terbang menunjukkan nilai volume antara tinggi terbang 30 meter dengan 40 meter tidak memiliki perbedaan secara signifikan. Sementara itu, hasil dari perhitungan volume menggunakan alat GNSS metode RTK sebesar 328,26 m3 sehingga diperoleh selisih volume antara UAV dengan GNSS metode RTK untuk tinggi terbang 30 meter sebesar 3,79%, tinggi terbang 40 meter sebesar 3,66%, dan 7,09% untuk tinggi terbang 50 meter. Hasil uji statistik t antara UAV dengan GNSS metode RTK menunjukkan volume tinggi terbang 40 meter tidak memiliki perbedaan signifikan dengan GNSS metode RTK. Berdasarkan waktu akuisisi data foto udara dan hasil dari uji statistik t, tinggi terbang optimal yang disarankan untuk pengukuran volume uji petik tumpukan overburden adalah 40 meter.</p>Syafira NurhalizaErlyna Nour Arrofiqoh
Copyright (c) 2026 Journal of Geospatial Science and Technology
2026-07-312026-07-3141516410.22146/jgst.v4i1.23993