Isi Artikel Utama

Abstrak

Penelitian ini mendiskusikan tentang bagaimana keterlibatan local strongman dalam kontestasi politik elektoral di tingkat lokal. Secara khusus, riset ini berusaha memahami tentang fenomena warok di Kabupaten Ponorogo. Riset ini berupaya mengidentifikasi keterlibatan jejaring warok dalam pilkada, terutama dalam penghentian money politic yang dilakukan oleh kandidat yang lain. Strategi pemenangan ini merupakan suatu strategi baru yang dilakukan oleh tim pemenangan kepala daerah. Dalam menganalisis fenomena tersebut, peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan yang diperoleh dari observasi secara langsung dari fenomena di Kabupaten Ponorogo, in-depth interview dengan tim pemenangan kandidat, anggota partai, dan tokoh masyarakat. Temuan dan analisis menunjukkan bahwa fenomena warok memiliki peran cukup penting dalam kontestasi politik elektoral di tingkat lokal, dibuktikan dengan bergabungnya tim pemenangan kepala daerah di Kabupaten Ponorogo dan strategi untuk menghentian money politics yang dilakukan oleh lawan politik.

Kata Kunci

warok local strongman demokrasi money politics politik lokal

Rincian Artikel

References

  1. Abd. Halim. (2014) Politik Lokal Pola Aktor & Alur Dramatikalnya: Perspektif Teori Powercube, Modal dan Panggung, Yogyakarta: LP2B
  2. BPS. (2016). Kabupaten ponorogo dalam angka 2016. Ponorogo: BPS Kabupaten Ponorogo.
  3. Chalik, A. (2017). Pertarungan Elit Dalam Politik Lokal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  4. Charoline Pebrianti (2019, 15 Desember) https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-5296450/rekapitulasi-pilkada-ponorogo-menangkan-sugiri-lisdyarita DetikNews, diakses pada 16 Mei 2020
  5. Darmarastri, Hayu Adi. (2017) "Pekerja Anak di Surakarta mas Kolonial: Dari Pekerja Keluarga Menjadi Pekerja Upah” SASDAYA: Gadjah Mada Journal of Humanities. ISSN 2549-3884.
  6. Geertz, Clifford (1981), Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa, Jakarta: Pustaka Jaya
  7. Habibi, A. (2010). Sejarah Pencak Silat Indonesia (Studi Historis Perkembangan Persaudaraan Setia Hati Terate Di Madiun Periode Tahun 1922-2000). Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga Jogjakarta
  8. Hamid, A. (2010). Memetakan Aktor Politik Lokal Banten Pasca Orde Baru: Studi Kasus Kiai dan Jawara di Banten. Politika, Jurnal Ilmu Politik
  9. HAMID, Abdul & Okamoto MASAAKI, (2008), “Jawara in Power 1999-2007”, Indonesia, 86, October: 109-138.
  10. Hartono. (1980). Reyog Ponorogo. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  11. Henk Schulte Nordholt & Gery van Klinken, (2007), Politik Lokal di Indonesia, Jakarta: YOI & KITLV.
  12. Hermawan Sulistyo dan A. (2000) Kadar, Uang dan Politik dalam Pemilu 1999, Jakarta: KIPP
  13. Hutabarat, Melvin P. (2012) “Fenomena “Orang Kuat” Di Indonesia Era Desentralisasi Studi Kasus Tentang Dinamika Kekuasaan Zulkifli Nurdin Di Jambi”, Tesis: Universitas Indonesia
  14. James C. Scott. (1992) “Patron-Client Politics and Political Change in SoutheastAsia” dalam The American Political Science Review, Vol. 66, No.1. March.
  15. Joel S. Migdal. (2001) State in Society: Studying How States And Societies Transform And Constitute One Another, Cambridge, UK: The Press Syndicate of The University of Cambridge
  16. Kacung Marijan. (2010) Sistem Politik Indonesia Konsolidasi Demokrasi Pasca Orde Baru, Jakarta: Kencana Predana Media Group
  17. Kurnianto, R. (2013). “Sejarah dan Dinamika Seni Reyog Ponorogo”, Researchgate.
  18. Masaaki, Okamoto dan Abdur Rozaki, (Ed). (2006) Kelompok Kekerasan dan Bos Lokal di Era Reformasi. Yogyakarta: Penerbit IRE
  19. Mukarromah, S. (2012). Mobilisasi massa partai melalui seni pertunjukan reyog ponorogo (Skripsi). Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Airlangga.
  20. Pramono. (2004) Budaya reyog dan komunikasi politikdan kulturisasi seni budaya reyog dalam praktek politik di ponorogo. LPPM Unmuh Ponorogo.
  21. Purwowijoyo. (1985) Babad Ponorogo. Ponorogo: Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Pemerintah Kabupaten Ponorogo