Pengaruh Jumlah Gigi Posterior Rahang Bawah Dua Sisi yang Telah Dicabut dan Pemakaian Gigi Tiruan Sebagian terhadap Bunyi Sendi

https://doi.org/10.22146/majkedgiind.15591

Haryo Mustiko Dipoyono(1*)

(1) Departemen Prostodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Indonesia
(*) Corresponding Author

Abstract


Latar Belakang: sendi temporomandibular didalam fungsinya sangat rumit dan ketika terjadi kelainan memerlukan perawatan yang sangat kompleks. Salah satu dari kelainan sendi tersebut adalah terjadinya bunyi sendi. Bunyi sendi terjadi akibat adanya perubahan pada komponen sendi. Salah satu perubahan ini dapat terjadi akibat adanya perubahan pola oklusi. Gigi yang telah dicabut khususnya gigi posterior dapat memicu perubahan pola oklusi dan berakibat terjadi kelainan pada sendi. Tujuan. Pengukuran pada pasien dengan  kasus kehilangan satu gigi atau dua gigi posterior yaitu molar satu atau molar satu dan molar dua, dua sisi rahang bawah, sebelum dan sesudah pemakaian gigi tiruan sebagian (GTS) diukur bunyi sendinya yang terdiri dari amplitude (dB) dan frekuensi (Hz) dengan alat ultra sonography yang telah dimodifikasi. Hasil yang didapat dianalisis dengan uji Avana dan LSD. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa terdapat bunyi sendi yang terdiri amplitudo dan frekuensi pada sendi temporomandibular dari pasien kasus kehilangan gigi posterior rahang bawah dua sisi sebelum dan sesudah pemakaian GTS. Kesimpulan: bunyi sendi dalam hal ini amplitudo dan frekuensi berbeda pada kasus kehilangan gigi posterior rahang bawah. Kehilangan dua molar bunyi sendi akan lebih tinggi dibandingkan dengan kehilangan satu gigi molar. Pemakaian gigi tiruan sebagian untuk mengembalikan oklusi, dapat menurunkan bunyi sendi.

 

Background: The temporomandibular joint is very complicated in its function and requires complex treatment when an anomaly accurs. An example of the joints anomaly is clicking sound. Clicking resulted due to the changes at the joints component. One of the changes can be caused by an alteration of occlusal pattern. Extracted tooth especially posterior tooth can trigger the alteration of occlusion pattern which affects the joints anomaly. Purpose: the amplitude and frequency of the clicking sound of the patientwith missing one or two posterior tooth such as the first molar of the first and second molar, on both sides of the mandible, prior to or after wearing removable partial dentures is measured using a modified ultrasonographydevide and were analyzed by Anova and LSD test. The result: shows that the clicking sound on temporomandibular joint which consists of the amplitude and frequency, ha,ppens to patients who lose their posterior molar teeth before and after the use of removable partial denture. Conclusion: the clicking sound temporomandibular joints is defferent from the one on patient with missing posterior tooth. Losing two molar teeth will cause stronger clicking sound than one molar tooth will. The use of partial removable denture to regain the occlusion willreduce the clicking sound. 


Keywords


Gigi Posterior; gigi tiruan sebagian; bunyi sendi; posterior tooth; removable partial denture; joint/clicking sound

Full Text:

PDF



DOI: https://doi.org/10.22146/majkedgiind.15591

Article Metrics

Abstract views : 1140 | views : 13884

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2016 Majalah Kedokteran Gigi Indonesia




Currently, Majalah Kedokteran Gigi Indonesia indexed by:

         

 

 

 

 

 

 View My Stats


real
time web analytics