Pengaruh Irradiasi Sinar Gammapada Pertumbuhan Kalusdan Tunas Tanaman Gandum (Triticum aestivum L.)

https://doi.org/10.22146/ipas.6176

Laela Sari, Agus Purwito, Didy Sopandie, Ragapadmi Purnamaningsih, dan Enny Sudarmanowa(1*)

(1) 
(*) Corresponding Author

Abstract


Tujuan utama pemuliaan tanaman adalah memperbaiki varietas yang sudah ada guna mendapatkan varietas yang lebih baik atau unggul. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kisaran Lethal Dosis 20 (LD20) dan 50 (LD50) pada kalus gandum varietas Dewata yang diradiasi sinar gamma. Keberhasilan perlakuan irradiasi sinar gamma sangat ditentukan oleh sensitivitas genotipe tanaman. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Juli-Desember 2011 di Laboratorium kultur BB-Biogen dan PATIR BATAN. Percobaan disusun secara faktorial dalam lingkungan Rancangan Acak Lengkap 1 x 4, dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah genotipe gandum Dewata. Faktor kedua adalah dosis irradiasi sinar gamma yaitu 0; 7,5; 15; 22,5; dan 30 Gy. Peubah yang diamati pertumbuhan kalus dan persentase tumbuh tunas. Data dianalisis menggunakan Program SAS 9.1. LD20 dan   LD50  ditentukan menggunakan Program Best Curve-fit Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis irradiasi berpengaruh nyata terhadap penghambatan pertumbuhan kalus gandum. Persentase hiduptunasmenurun sejalan dengankenaikan dosis irradiasi.Kelangsungan hiduptunasmenurun drastis bahkan tidak tumbuh sama sekali dan berwarna albino pada dosis 30 Gy. Persentase hidup tunas tertinggi pada dosis 15 Gy. Persentase tumbuh kalus tertinggi terdapat pada dosis 7,5 Gy. Semakin tinggi dosis iradiasi yang digunakan, maka persentase tunas yang tumbuh semakin sedikit atau daya regenerasi semakin rendah. Peningkatan keragaman genetik kalus gandum terdapat pada perlakuan irradiasi antara LD 20 dan LD 50 yaitu  dosis  iradiasi sinar gamma 15 – 22.5 Gy. Model dosis lethal terbaik untuk pertumbuhan kalus berbentuk kuadratik dengan persamaan Y =   86,28 – 6,47 x + 0,13 x2,   LD20 = 0,99 Gy dan LD50 = 6,41 Gy. Sedangkan untuk persentase kalus yang bertunas dan mampu bergenerasi mempunyai persamaan berdasarkan persentase tumbuh kalus Y = 100,28 – 0,87x - 0,05 x2, LD20 = 13,14 Gy dan LD50 = 24,00 Gy.

Kata kunci: Gandum (Triticum aestivum), lethal dosis, irradiasi sinar gamma.


Full Text:

PDF


References

Al-Safadi, B., and Simon P. W. 2000. Gamma Irradiation Induceed Variation in Carrots. J. Amer Soc. Hort. Sci. 121: 599-603.

Banerji, B.K., and Datta S.K. 1992. Gamma Ray Induced Flower Shape Mutation in Chrysanthemum cv Java. J. Nuclear Agric. Biol. 21(2):73-79.

Bibi, S., Khan I.A., Bughio H., Odhano I.A., Asad M.A., and Khatri A. 2009. Genetic Differentiation of Rice Mutants Based on Morphological Traits and Molecular Marker (RAPD). Pak. J. Bot., 41 (2): 737-743.

Charbaji and I. Nabuisi. 1999. Effect of Low Doses of Gamma Irradiasi on In Vitro Growth of Grapevine. Plant Cell Tiss. Org.Cult. 57:129-132.

Cheng, X.Y., Gao M.W., Liang Z.Q., and Liu K.Z. 1990. Effect of Mutagenic Treatments on Somaclonal Variation in Wheat (Triticum aestivum). Plant Breeding 105 : 47 – 52.

Crowder, L.V. 1993. Genetika Tumbuhan. Terjemahan Kusdiarti, L., Sutarso (ed). Gadjah Mada University Press, Yogyakarta : 323 - 351.

Danakusuma, T. 1985. Hasil penelitian Gandum dan prospek pengembangannya. Di dalam:Subandi et al. (eds). Risalah Rapat Teknis Hasil Penelitian Jagung. Sorgum dan Gandum Puslitbangtan, Bogor. p.189-202.

Datta, S.K. 2001. Mutation Studies on Garden Chrysanthemum: A review. Sci. Hort. 7:159-199.

Fehr, W. R. 1987. Principles of Cultivar Development. Theory and Technique. Vol.1. Macmillan Publishing Company. NY.

Ismachin, M. 1988. Pemuliaan Tanaman dengan Mutasi Buatan. Jakarta: Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi, Badan Tenaga Atom Nasional.

Kuksova, V.B; Poven N.M., and Geleba Y.Y. 1997. Somaclonal Variation and In Vitro Induced Mutagenesis in Grapepine. Plant Cell Tissue Organ Cult. 49: 17-27.

Larik, A.S., Memon, S., and Soomro, Z.A. 2009. Radiation Induced Polygenic Mutations in sorghum bicolor. J. Agric. Res. 47 (1).

Maluzynski, M.K., L. Nichterlein., Van Zanten., and B.S. Ahloowalia. 2000. Officially Released Mutant Varieties the FAO/IAEA Database. Mut.Breed. Rev. 12:1-84.

Medina, F.I.S., Amano E., and Tano S. 2005. Mutation Breeding Manual. Japan. Forum for Nuclear Cooperation in Asia (FNCA).

P3TP. 2008. Prospek dan arah pengembangan agribisnis gandum. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Singh, N.K., and Balyan, H.S. 2009. Induced Mutation in Bread Wheat (Triticum aestivumL.) Cv. Kharcia 65 for Reduced Plant Height and Improve Grain Quality Traits. Adv. In Biol. Res. 3(5-6):215-221.

Sleper, D.A., and Poehlman J.M. 2006. Breeding Field Crops. Ed. Ke-5. Iowa : Blackwell Publishing.

Soeranto, H. 2003. Peran iptek nuklir dalam pemuliaan tanaman untuk mendukung industri pertanian. Puslitbang Teknologi Isotop dan Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).

Soeranto, H. 2012. Pemanfaatan teknologi nuklir untuk pemuliaan sorghum. Makalah Workshop on the current status and challenges in sorghum development in Indonesia. SEAMEO BIOTROP, Bogor, 25-26 September 2012.

Vrinten, P., Nakamura T., and Yamamori M. 1999. Molecular Characterization of Waxy Mutations in Wheat. Mol. Gen Genet. 261 : 463 – 471.

Wattimena, G.A. 1992. Bioteknologi Tanaman I. Pusat Antar Universitas Bioteknologi Institut Pertanian Bogor.

Witjaksono. 2003. Bioteknologi Untuk Perbaikan Tanaman Buah. Laboratorium Kultur Sel dan Jaringan Tanaman, Bidang Botani. Pusat Penelitian Biologi-LIPI, Bogor.

Witternberg, H. 2004. The Inheritance and Molecular Mapping of Genes for Post-anthesis Drought Tolerance (PADT) in Wheat [Dissertation]. Martin Luther Universitat.



DOI: https://doi.org/10.22146/ipas.6176

Article Metrics

Abstract views : 1978 | views : 5814

Refbacks

  • There are currently no refbacks.