KOMBINASI ALKOHOL DAN ASAP CAIR SEBAGAI ALTERNATIF PENGAWET SPESIMEN CACING TANAH (Pheretima sp.)



Ani Sri Rahayoe(1*)

(1) Universitas Gadjah Mada
(*) Corresponding Author

Abstract


Pengawetan spesimen merupakan upaya untuk mempertahankan keadaan mahluk hidup sehingga dapat dipergunakan untuk kepentingan pendidikan dan penelitian. Pengawetan spesimen sangat terkait dengan pelaksanaan praktikum sistematika hewan. Asap cair grade-2 tempurung kelapa telah diketahui berpotensi sebagai pengawet yang aman. Untuk itu perlu dilakukan penelitian untuk mengevaluasi pengaruh kombinasi alkohol dan asap cair sebagai pengawet spesimen cacing tanah (Pheretima sp.) dan kisaran kombinasi yang baik.

Penelitian merupakan penelitian eksperimen dilaksanakan pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2018. Cacing tanah diberi 11 perlakuan kombinasi alkohol 70% dan asap cair grade-2. Perbandingan alkohol:asap cair dibuat (10:0), (9:1), (8:2), (7:3), (6:4), (5:5), (4:6), (3:7), (2:8), (1:9), dan (0:10) dengan 3 kali ulangan. Cacing diambil di daerah Pringgolayan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Pengamatan dilakukan 2 minggu sekali, terhadap  keadaan specimen (meliputi: warna, keutuhan, dan kekenyalannya) dan larutan (meliputi: warna dan kejernihannya).

Hasil penelitian hingga Minggu IV menunjukkan seluruh perlakuan mampu mengawetkan spesimen, keutuhan, dan kekenyalan tetap terjaga. Semakin tinggi kadar asap cair menyebabkan  warna yang semakin gelap. Hal ini disebabkan oleh Hb darah spesimen mengikat karbon dalam larutan. Kombinasi perlakuan II (alkohol:asap cair=9:1) hingga perlakuan V (kombinasi alkohol:asap cair=6:4) memberikan hasil kenampakan spesimen yang baik. Kombinasi tersebut tampak lebih baik dari pada perlakuan I (alkohol 70% murni) dan perlakuan XI (asap cair grade-2). Hasil awetan spesimen perlakuan I, warna merah tampak memudar, tubuh lebih lunak, dan beberapa bagian menyusut.

Keywords


asap cair; cacing tanah; alkhohol; pengawetan

Full Text:

PDF


References

Brusca, R.C. and Brusca, G. J. 1990. Invertebrates. Sinaur Associates. Inc. Sunderland: Massachusetts.

Darmawan, A., Rika Raffiudin, dan Tri Heru Widarto. 2010. Bioekologi Cacing Tanah (Pheretima darnleiensis). http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/55961 (Unduh:10 September 2018)

Edward, E. Ruppert and Robert D. Barner. 1994. Invertebrate Zoology. Saunders College Publishing. London. Pp. 561-568.

Hendry T, S. Saragih, Soesanto Mangkoewidjojo, dan Syarifudin Tato. 2008. Penentuan Lethal Dose 50(LD50) Asap Cair Grade 2 pada Mencit Betina. http://asapcair.blogspot.com/2008/12/penentuan-lethal-dose-50-ld50-asap-cair.html (Unduh: 10 September 2018)

Rahayoe, A.S. 2016. Asap Cair Sebagai Pengawet Spesimen. Prosiding Seminar Nasional Pranata Laboratorium Pendidikan, Universitas Udayana, Hal: 69-75.

Suntoro, S.H. 1983. Metode Perwarna. Laboratorium Histologi & Histokimia Fakultas Biologi. UGM. Hal 14-17.

Towaha, J. 2013. Pemanfaatan Asap Cair Kayu Karet dan Tempurung Kelapa untuk Penanganan Polusi Udara pada Lump. http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/bultri/article/view/2382 (Unduh: 3 September 2018)

Yulstiani, R. 2008. Monograf Asap Cair sebagai Bahan Pengawet Alami pada Produk Daging dan Ikan. Cetakan Pertama. Edisi 1. UPN Veteran Jawa. Timur.




Article Metrics

Abstract views : 370 | views : 470

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Indonesian Journal of Laboratory

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

 

View My Stats