Bahasa Buru di Pesisir Utara Pulau Buru: Sebuah Tinjauan Awal terhadap Daya Hidupnya

Inayatusshalihah Inayatusshalihah

Abstract


Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak bahasa daerah. Namun, kepunahan mengancam keberadaan bahasa-bahasa itu terutama di wilayah Indonesia bagian timur seperti Maluku. Ancaman kepunahan dapat disebabkan oleh faktor eksternal dan internal. Kedua faktor itu bersama-sama menghentikan transmisi bahasa dan tradisi kultural antargenerasi. Tulisan ini memaparkan daya hidup bahasa Buru yang dituturkan oleh masyarakat Desa Wamlana, KecamatanFena Leisela di pesisir utara Pulau Buru, Maluku dengan menggunakan sembilan faktor vitalitas dan keterancaman UNESCO. Data mengenai daya hidup bahasa Buru dijaring dengan kuesioner. Hasil analisis menunjukkan daya hidup bahasa Buru di Desa Wamlana mengalami ancaman pada beberapa faktor vitalitas. Dari segi rasio penutur dalam total populasi, mayoritas penduduk Desa Wamlana merupakan etnis Buru, tetapi bahasa Buru hanya digunakan oleh generasi orang tua ke atas. Sementara anak-anak tidakmampu menuturkan bahasa Buru secara aktif karena terinterupsinya transmisi bahasa antargenerasi. Penggunaan bahasa Buru mengalami pergeseran ke arah penggunaan bahasa Melayu Ambon. Bahasa Buru hanya digunakan pada ranah dan fungsi yang terbatas. Letak Desa Wamlana di daerah pesisir merupakan salah satu faktor yang memengaruhi daya hidup bahasa Buru. Di wilayah tersebut didapati banyak pendatang dari etnis lain, seperti Buton, Bugis, dan Jawa sehingga kontak bahasa tidak dapat dihindari. Selain itu, ketiadaan regulasi pemerintah berkaitan dengan pelindungan bahasa Buru juga turut menjadi penyebab lemahnya daya hidup bahasa Buru di Desa Wamlana.

 


References


Brenzinger, Matthias et.al. 2003. Language Vitality and Endangerment (http://www.unesco.org/new/en/culture/themes/endangered language/languagevitality/#unesdoc.unesco.org/images/0018/001836/183699E.pdf, diakses Juli 2015).

Crystal, David. 1997. A Dictionary of Linguistics and Phonetics. Oxford: Blackwell Publishers Inc.

Grenoble, Lenore A. 2011. “Assessing Language Endangerment”. Dalam Peter K. Austin dan Julia Sallabank (ed.). The Cambridge Handbook of Endangered Language. Cambridge: Cambridge University Press.

Grimes, Charles E. 2010. “Digging for the Roots of Language Death in Eastern Indonesia: The Cases of Kayeli and Hukumina”. Dalam Margaret Florey (ed.). Endangered Languages of Austronesia. Oxford: Oxford University Press.

Joan, Amee. 2015. The Present and Future Vitality of the Kejaman Language in Sarawak. (http://ir.unimas.my/id/edprint/8011, diakses 11 Desember 2015).

Latupapua, Falantino Eryk. 2015. Kebocoran Diglosia dan Pemertahanan Bahasa Tana sebagai Bahasa Adat di Kabupaten Maluku Tengah. (https://caridokumen.com/download/kebocoran-diglosia-dan-pemertahanan-bahasa-tana-sebagai-bahasa-adatdi-kabupaten-maluku-tengah-_5a46d7f7b7d 7bc7b7a22a6e5_pdf).

Maricar, Farida. 2016. “The Influence Factors of Ternate Language Shift in Ternate City”. International Journal of Science and Research. Volume 5:1.

Palupi, Dian. 2017. “Potret Bahasa Buru pada Suku Buru di Pulau Buru: Studi Kasus pada Masyarakat Fogi” dalam Prosiding Seminar Nasional Bahasa dan Sastra: Maertabatkan Bahasa dan Sastra, Rayakan Kebinekaan. Cetakan I. Ambon: Kantor Bahasa Maluku.

Sallabank, Julia. 2010. “Language Endangerment: Problems and Solutions” dalam eSharp, Special Issue: Communicating Change (2010): hlm. 50–87.

Simons, Gary F. dan Charles D. Fennig. 2018. Ethnologue: Languages of the World. Edisi XX. Dallas: SIL International. Online version http://www.ethnologue.com.

Tujuh Bahasa Daerah di Maluku Punah (https://www.antaranews. com/berita/685768/tujuhbahasa-daerah-di-maluku-punah, diakses Maret 2018 ).

Wurm, Stephen A. 2001. Atlas Of the World’s Languages in Danger of Disappearing. Paris: UNESCO Publishing.


Full Text: PDF

DOI: 10.22146/db.v1i2.47196

Refbacks

  • There are currently no refbacks.