Wae Grahe dan Wamlana: Dua Dialek Bahasa Buru dengan Daya Hidup yang Berbeda

Mukhamdanah Mukhamdanah

Abstract


Perubahan ekosistem linguistik dan khususnya faktor ekonomi dan marjinalisasi masyarakat pribumi yang bersifat intrinsik membawa dampak bagi situasi pergeseran bahasa. Pergeseran bahasa dan penyebabnya merupakan hal yang mendapat perhatian cukup besar dari para linguis atau ahli bahasa. Bahasa yang mempunyai potensi terancam punah dianggap mengalami penurunan yang cepat dalam jumlah dan kualitas, terutama pada wilayah yang menggunakan bahasa lain dengan nilai atau potensi tertentu. Kajian ini berupaya menjelaskan daya hidup bahasa Buru terutama dialek Buru Utara, di Wamlana yang merupakan daerah pesisir yang dipenuhi oleh para pendatang serta daya hidup dialek Rana di Wae Grahe sebagai daerah yang masih “asli”. Kontak bahasa, perkawinan campuran, urbanisasi, prestise bahasa lain, system pendidikan formal yang menggunakan bahasa nasional, serta kurangnya transmisi bahasa ibu antargenerasi menjadi ancaman terhadap kelangsungan sebuah bahasa. Dengan menggunakan data primer dari 54 responden di dua wilayah tadi, serta dengan analisis data secara kuantitatif dan kualitatif, kajian ini memaparkan daya hidup bahasa Buru di Wamlana dan Wae Grahe. Hasil kajian menunjukkan bahwa daya hidup dua dialek ini tidak sama. Daya hidup yang cenderung kuat dimiliki oleh dialek Wae Grahe sebagai dialek yang dituturkan di daerah yang cenderung homogen (secara budaya dan agama), jauh dari pusat pemerintahan dan pusat ekonomi, kontak bahasa yang kecil, serta masih terjadinya transmisi bahasa ibu. Sementaraitu, dialek utara di Wamlana cenderung berada pada daya hidu prendah. Perkawinan antarsuku, masyarakat yang heterogen, kontak bahasa, serta tidak adanya transmisi bahasa ibu, menjadi penyebabnya.

 


References


Florey, Margaret. 2010. Endangered Languages of Austronesia. Oxford: University Press

Grimes, Charles E. 2000. “Defining Speech of Communities on Buru Island” dalam Spices from the East: Papers in Languages of Eastern Indonesia. Canberra: Pasific Linguistics.

Heidi, Johnson. 2004. Language Documentation and Archiving, or How to Build a Better Corpus. The Hans Rausing: Endangered Language Project.

Lewis, M. Paul. Ed. 2009.Ethnologue: Language of the Word. Dallas: SIL International.

Mukhamdanah, 2016. “Kontak Bahasa dan Perubahan Bahasa: Kasus pada Bahasa Buru di Pulau Buru, Maluku”. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional di Ambon, Maluku.

Pattinama, Max Marcus J. “Kekuatan Bahasa dalam Rasa, Karya, dan Karsa: (Suatu Ajakan untuk Revitalisasi Bahasa Buru sebagai Mata Ajaran Mulok)”. Dalam http://maxmjpattinama.unpatti.org/tag/penyelamatan-bahasa-daerah/. Diakses 23 Oktober 2015.

SIL International Cabang Jakarta: 2006. Bahasa-bahasa di Indonesia. Jakarta: SIL Internasional, Cabang Indonesia.

Sugono, Dendy Ed. 1998. Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. Jakarta: Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa


Full Text: PDF

DOI: 10.22146/db.v1i1.47093

Refbacks

  • There are currently no refbacks.