Spot survey leptospirosis dan reservoar yang berpotensi menularkan di kecamatan Kuwarasan kabupaten Kebumen tahun 2017

https://doi.org/10.22146/bkm.37625

Dewi Puspita Ningsih(1*), Dyah Widiastuti(2), Corry Laura JS.(3)

(1) Balai Litbang P2B2 Banjarnegara
(2) Balai Litbang P2B2 Banjarnegara
(3) Balai Litbang P2B2 Banjarnegara
(*) Corresponding Author

Abstract


Jawa Tengah merupakan provinsi endemis leptospirosis, bahkan pada tahun 2015 menduduki peringkat pertama kasus terbanyak di Indonesia. Sebanyak 20 kota/kabupaten di Jawa Tengah rutin melaporkan adanya kasus leptospirosis. Kabupaten Kebumen merupakan salah satu daerah baru yang melaporkan kasus leptospirosis pada tahun 2017. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko penularan serta keberadaan reservoar yang tertangkap dan berpotensi menularkan leptospirosis. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain potong lintang. Lokasi penelitian di Kabupaten Kebumen sedangkan penangkapan reservoar dilakukan di Desa Mangli Kecamatan Kuwarasan berdasarkan pada laporan kasus terakhir. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Maret 2017 dengan wawancara kasus probable serta penangkapan reservoar menggunakan perangkap hidup (single live trap) sebanyak 150 buah selama 2 malam berturut-turut di lingkungan permukiman dan sekitarnya. Data dianalisis secara deskriptif dalam bentuk tabel dan gambar. Hasil penelitian menunjukkan jumlah kasus leptospirosis yang diwawancara sebanyak 9 orang. Sebagian besar kasus leptospirosis (78%) adalah petani/buruh tani dan terkena di sawah pada saat panen. Selain pekerjaan, faktor risiko utama yang berkontribusi yaitu adanya luka terbuka pada kaki, tidak memakai APD pada saat bekerja dan adanya kontak dengan genangan air dalam waktu yang cukup lama. Reservoar yang tertangkap dalam penelitian ini adalah tikus dan cecurut sebanyak 26 ekor dengan species Bandicota indica, Rattus tanezumi, Mus musculus dan Suncus murinus. Hasil pemeriksaan PCR menunjukkan 1 ekor tikus positif bakteri leptosira patogen dan ditemukan pada jarak < 100 meter dengan titik kasus. Hal ini menunjukkan potensi risiko penularan leptospirosis di lokasi tersebut. Perlunya sosialisasi peningkatan kewaspadaan leptospirosis dan tindakan pengendalian reservoar khususnya tikus dan cecurut baik di dalam rumah, sawah maupun lingkungan sekitarnya.

Keywords


leptospirosis; reservoar

Full Text:

PDF



DOI: https://doi.org/10.22146/bkm.37625

Article Metrics

Abstract views : 454 | views : 358

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2018 Berita Kedokteran Masyarakat

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Berita Kedokteran Masyarakat ISSN 0215-1936 (PRINT), ISSN: 2614-8412 (ONLINE).

Indexed by:


Web
Analytics Visitor Counter